Madinah, IDN Times - Berada di Madinah pada musim haji selalu menyajikan kejutan. Kota ini bisa terasa begitu syahdu pada satu waktu, namun seketika berubah menjadi lautan manusia yang riuh pada waktu lainnya. Hal ini pulalah yang saya rasakan ketika mengunjungi Masjid Quba dalam dua kesempatan yang berbeda pada musim haji 2026.
Kesempatan pertama datang tatkala senja mulai merayap turun. Kala itu, musim haji baru saja mengetuk pintu. Hanya segelintir jemaah dari negara-negara tetangga Arab Saudi dan beberapa wajah Indonesia yang tampak berlalu-lalang. Ketika azan Magrib mengalun memecah langit Madinah, suasananya tetap tenang. Tidak ada ketergesaan; jemaah melangkah pelan, leluasa memilih saf terbaik tanpa harus berdesakan. Dalam keheningan senja itu, Quba terasa magis, seolah memberi ruang bagi jiwa untuk benar-benar merenung.
Namun, kunjungan kedua saya menyajikan lanskap yang sangat kontras. Pagi itu matahari bersinar terik. Hampir dua minggu sudah Madinah membuka keran kedatangannya, dan dampaknya sangat terasa. Pelataran hingga bagian dalam Masjid Quba telah disesaki lautan manusia. Penjagaan pun diperketat demi menjaga ritme dan ketertiban ribuan peziarah yang datang silih berganti.
