Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fakta Cadangan Minyak Venezuela yang Diincar Trump
ilustrasi pengeboran minyak (unsplash.com/Sheng Hu)

Intinya sih...

  • Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 303 miliar barel minyak mentah.

  • Produksi minyak Venezuela jauh dari kapasitas maksimal, hanya mampu memproduksi kurang dari 1 persen produksi global.

  • Jenis minyak Venezuela cocok untuk kilang AS, potensi biaya pemulihan infrastruktur mencapai miliaran dolar AS.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump menyatakan Washington akan mengambil alih kendali sementara negara tersebut. Trump juga berencana mengerahkan perusahaan energi AS untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang rusak parah.

Trump menilai industri minyak Venezuela selama ini gagal dikelola dengan baik dan berpotensi menghasilkan keuntungan besar jika dipulihkan. Berikut fakta-fakta cadangan minyak Venezuela yang menjadi incaran Trump.

1. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia

ilustrasi pengeboran minyak (unsplash.com/Zbynek Burival)

Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), Venezuela berdiri di atas cadangan minyak terbesar di planet ini. Negara Amerika Selatan tersebut diperkirakan memiliki sekitar 303 miliar barel minyak mentah di dalam perut buminya.

Venezuela mewakili sekitar 17 hingga 20 persen dari total cadangan minyak global. Jumlah ini melampaui cadangan milik Arab Saudi yang tercatat sebesar 267 miliar barel dan jauh di atas cadangan Amerika Serikat.

Sebagian besar harta karun energi Venezuela terkonsentrasi di Sabuk Orinoco yang membentang luas di bagian timur laut negara itu. Wilayah seluas kurang lebih 55 ribu kilometer persegi ini menyimpan potensi energi yang belum tergali secara maksimal selama beberapa dekade.

Namun, jenis minyak yang dimiliki Venezuela berbeda dengan minyak mentah ringan pada umumnya karena berjenis minyak ekstra berat (extra-heavy crude). Menurut Sky News, minyak jenis ini memiliki tekstur sangat kental menyerupai lumpur dan memerlukan teknologi khusus serta biaya tinggi untuk ekstraksi dan penyulingannya.

2. Produksi jauh dari kapasitas maksimal

ilustrasi kilang minyak (unsplash.com/Patrick Hendry)

Meskipun memiliki cadangan terbesar, produksi minyak Venezuela justru mengalami penurunan tajam dibandingkan masa kejayaannya. Saat ini, negara tersebut hanya mampu memproduksi sekitar 1 juta barel per hari, atau kurang dari 1 persen produksi global.

Angka tersebut sangat kontras dengan pencapaian pada era 1970-an hingga awal 2000-an. Sebelum krisis berkepanjangan melanda, Venezuela tercatat mampu memompa hingga 3,5 juta barel minyak mentah setiap harinya ke pasar internasional.

Penurunan drastis ini disebabkan oleh kombinasi mismanajemen kronis di tubuh perusahaan minyak negara (PDVSA) dan sanksi ekonomi ketat. Infrastruktur energi dibiarkan membusuk tanpa perawatan memadai, diperparah oleh seringnya pemadaman listrik dan pencurian peralatan operasional.

Kondisi fasilitas produksi dilaporkan sangat memprihatinkan karena kurangnya investasi modal dan keahlian teknis selama bertahun-tahun. Akibat sanksi AS sebelumnya, ekspor minyak Venezuela yang tersisa sebagian besar dialihkan ke China sebagai pembeli utama.

3. Jenis minyak Venezuela cocok untuk kilang AS

bendera Venezuela (unsplash.com/aboodi vesakaran)

Ketertarikan Trump terhadap Venezuela tidak lepas dari kebutuhan spesifik infrastruktur energi Amerika Serikat. Meski AS adalah produsen minyak terbesar dunia, mayoritas hasil buminya berupa minyak mentah ringan (light sweet crude) yang cocok untuk bensin tetapi kurang ideal untuk produk lain.

Kilang-kilang minyak AS di Texas dan Louisiana justru didesain untuk mengolah minyak mentah berat. Minyak jenis berat ini dapat diproses menjadi aspal, diesel, dan bahan bakar industri yang bernilai tinggi.

Mengakses kembali minyak Venezuela dinilai jauh lebih efisien bagi perusahaan AS dibandingkan harus merombak ulang kilang mereka. Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group, menyoroti potensi besar jika industri ini berhasil pulih.

"Jika perusahaan-perusahaan AS diizinkan kembali dan membangun ulang industri minyak Venezuela, ini bisa menjadi 'game-changer' bagi pasar minyak global," ujar Flynn, dilansir CNN.

4. Biaya pemulihan infrastruktur capai miliaran dolar AS

Presiden AS, Donald Trump. ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Rencana Trump untuk memulihkan industri minyak Venezuela menghadapi tantangan biaya yang besar dan waktu yang panjang. PDVSA melaporkan bahwa jaringan pipa mereka belum diperbarui selama 50 tahun dan membutuhkan perbaikan menyeluruh.

Analis memperkirakan biaya untuk mengembalikan produksi ke tingkat puncak bisa mencapai 58 miliar dolar AS hingga 100 miliar dolar AS (sekitar Rp970 - Rp1.673 triliun). Menurut CBS News, proses rekonstruksi infrastruktur minyak Venezuela diprediksi memakan waktu setidaknya satu dekade.

"Kami akan mengerahkan perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar AS, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, dan mulai menghasilkan uang bagi negara tersebut," ujar Trump dalam konferensi persnya, dikutip BBC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team