Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
KTT ke-48 ASEAN Fokus Bahas Energi, Myanmar, dan Laut China Selatan
Para pemimpin di KTT ke-48 ASEAN. (Dok. Youtube SetPres)
  • KTT ASEAN ke-48 di Cebu fokus pada dampak ekonomi konflik Timur Tengah, terutama krisis energi dan keamanan pekerja migran, dengan seruan menjaga stabilitas rantai pasok kawasan.
  • Konflik sipil Myanmar kembali jadi ujian bagi soliditas ASEAN, dengan perdebatan soal pendekatan diplomatik terhadap junta militer yang baru dilantik namun belum ada konsensus penuh antaranggota.
  • Negosiasi kode etik Laut China Selatan masih tersendat meski telah dibahas dua dekade, karena perbedaan pandangan antara ASEAN dan China terkait cakupan aturan serta kekuatan hukumnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Para pemimpin negara-negara ASEAN mulai berkumpul di Cebu, Filipina, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 pada 7-8 Mei 2026. Pertemuan tahunan itu berlangsung di tengah meningkatnya tekanan geopolitik akibat perang Iran dan Amerika Serikat yang belum menunjukkan tanda mereda.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mengatakan KTT kali ini akan digelar secara lebih sederhana atau “bare bones summit” dengan fokus utama pada dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah. Krisis energi, lonjakan harga pangan, hingga keamanan pekerja migran di kawasan Teluk menjadi perhatian utama para pemimpin ASEAN.

“Yang benar-benar kita butuhkan saat ini adalah para pemimpin berbicara tentang bagaimana kita bisa saling membantu,” ujar Marcos, dikutip dari MalayMail, Jumat (8/5/2026).

Ia merespons dampak perang yang mulai memengaruhi rantai pasok dan stabilitas ekonomi kawasan Asia Tenggara.

Selain isu Timur Tengah, konflik sipil Myanmar dan pembahasan kode etik Laut China Selatan juga diperkirakan menjadi agenda penting dalam pertemuan tersebut. ASEAN menghadapi tantangan menjaga soliditas kawasan di tengah tekanan geopolitik global yang semakin kompleks.

Pertemuan di Cebu juga menjadi KTT pertama ASEAN setelah Timor-Leste resmi bergabung sebagai anggota penuh, menjadikan ASEAN kini beranggotakan 11 negara.

1. ASEAN fokus cari jalan keluar dari krisis energi

Para pemimpin di KTT ke-48 ASEAN. (Dok. Youtube SetPres)

Krisis di Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling mendesak yang dibahas dalam KTT ASEAN tahun ini. Jalur laut strategis tersebut sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia sebelum perang Iran-AS pecah pada Februari lalu.

Gangguan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global. Sejumlah negara Asia bahkan mulai mengalami kekurangan bahan bakar dan keterlambatan distribusi logistik akibat terganggunya jalur perdagangan internasional.

Filipina menyebut ASEAN sedang menyiapkan dokumen bersama terkait respons kawasan terhadap konflik Timur Tengah. Seorang diplomat ASEAN mengatakan, draf awal dokumen tersebut berisi seruan pembukaan kembali Selat Hormuz dan perlindungan kebebasan navigasi di jalur laut strategis.

Meski ASEAN memiliki skema kerja sama energi seperti Petroleum Security Agreement, mekanisme tersebut belum pernah digunakan. Perjanjian berbagi pasokan bahan bakar antarnegara ASEAN itu masih bersifat sukarela dan belum memiliki sistem implementasi konkret.

Marcos menegaskan, negara-negara ASEAN perlu memperkuat koordinasi menghadapi ketidakpastian global yang semakin besar. Menurutnya, kerja sama regional menjadi penting untuk menjaga stabilitas kawasan di tengah ancaman krisis berkepanjangan.

2. Myanmar kembali jadi ujian soliditas ASEAN

Bendera Myanmar (pexels.com/aboodi vesakaran)

Konflik berkepanjangan di Myanmar juga diperkirakan kembali menjadi pembahasan utama dalam KTT ASEAN. Negara itu masih dilanda perang sipil sejak militer mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada 2021.

Myanmar tetap tidak diundang secara penuh dalam forum tingkat tinggi ASEAN. Namun situasi politik terbaru di negara itu memunculkan kembali diskusi mengenai kemungkinan pemulihan hubungan diplomatik dengan junta militer.

Pemimpin junta Myanmar Min Aung Hlaing, yang baru dilantik sebagai presiden bulan lalu, mengatakan pemerintahannya akan berupaya memulihkan hubungan normal dengan ASEAN. Pernyataan itu muncul setelah Aung San Suu Kyi dipindahkan dari penjara ke tahanan rumah.

Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow sebelumnya mengusulkan pendekatan “keterlibatan bertahap” terhadap pemerintahan baru Myanmar. Menurut Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro, sejumlah negara ASEAN memiliki pandangan yang lebih pragmatis terkait isu tersebut.

Meski begitu, belum ada konsensus penuh di antara negara anggota ASEAN mengenai langkah selanjutnya terhadap Myanmar. Seorang diplomat ASEAN mengatakan pengakuan diplomatik penuh menjadi satu-satunya kartu tekanan yang masih dimiliki ASEAN terhadap junta Myanmar.

3. Laut China Selatan masih jadi persoalan

Peta wilayah Laut China Selatan yang menjadi kawasan sengketa sejumlah negara Asia Tenggara

Selain krisis Timur Tengah dan Myanmar, isu Laut China Selatan juga diperkirakan kembali menyita perhatian para pemimpin ASEAN. Namun, negosiasi terkait Code of Conduct (CoC) atau kode etik Laut China Selatan masih berjalan lambat.

ASEAN dan China telah membahas aturan perilaku di kawasan sengketa tersebut selama lebih dari dua dekade. Namun hingga kini belum tercapai kesepakatan mengenai cakupan aturan, mekanisme penegakan, maupun status hukumnya.

Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Vietnam memiliki klaim wilayah di Laut China Selatan. Sementara China mengklaim hampir seluruh kawasan itu meski Mahkamah Arbitrase Internasional menyatakan klaim Beijing tidak memiliki dasar hukum.

Filipina yang menjadi ketua ASEAN tahun ini sebelumnya berharap pembahasan kode etik dapat diselesaikan pada 2026. Namun negosiasi kembali mengalami hambatan akibat perbedaan pandangan antara ASEAN dan China.

Analis geopolitik Don McLain Gill menilai Filipina kemungkinan akan mendorong isu keamanan maritim dalam KTT kali ini. Namun ia menyebut kesepakatan apa pun yang disetujui China kemungkinan tidak akan memiliki kekuatan hukum yang mengikat.

Seorang diplomat Asia Tenggara juga mengatakan tidak mungkin China menyetujui aturan yang benar-benar mengikat secara hukum. Menurutnya, Beijing kemungkinan hanya bersedia menyepakati deklarasi politik tanpa mekanisme penegakan yang kuat.

Editorial Team