Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gantikan Ayah, Pelatih SSB Difabel Asal Riau Tiba di Tanah Suci
Jufriadi saat mengasuh tim SSB (Dok. Pribadi)
  • Jufriadi, pria difabel asal Riau, berangkat haji menggantikan almarhum ayahnya dan menganggap kesempatan ini sebagai mukjizat penuh rasa syukur.
  • Kehilangan kaki akibat kecelakaan tahun 2004 tidak memadamkan semangat Jufriadi untuk terus aktif dan berkontribusi di masyarakat.
  • Sebagai pelatih SSB Tuah Degi di Kuantan Singingi, ia rutin berlatih fisik dengan kruk demi kesiapan menjalankan ibadah haji dengan penuh keyakinan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Madinah, IDN Times – Di tengah lautan jemaah haji yang memadati Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, langkah seorang pria asal Riau menyita perhatian. Bertumpu pada sepasang kruk penyangga tubuh, ia melangkah dengan mantap dan penuh keyakinan.

​Pria itu adalah Jufriadi. Kehilangan satu kaki tak lantas memangkas sayap mimpinya untuk terbang ke Tanah Suci. Tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 8 Embarkasi Batam, ia membawa sebuah misi spiritual yang sangat personal pada musim haji tahun ini.

1. Rasa tak percaya gantikan almarhum ayah berhaji

Jufriadi jemaah haji asal Kuansing, Riau (Dok. MCH 2026)

​Bagi Jufriadi, menginjakkan kaki di Tanah Suci adalah mukjizat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Keberangkatannya ke Arab Saudi tahun ini terasa begitu emosional karena ia hadir untuk menggantikan porsi haji mendiang sang ayah yang telah berpulang.

​Setibanya di bandara Madinah, rona haru dan syukur tak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Sampai sekarang masih terasa mimpi. Tidak terlalu yakin dipanggil ke sini. Tapi dengan kuasa Allah, Allah panggil ke sini," ujar Jufriadi Senin (04/05/2026) pagi di Madinah.

2. Tragedi 2004 tak mampu padamkan semangat hidup

Jufriadi jemaah haji asal Kuansing, Riau (Dok. MCH 2026)

​​Kondisi fisik yang dialami Jufriadi saat ini adalah imbas dari sebuah masa lalu yang kelam. Pada tahun 2004 silam, sebuah kecelakaan tragis menimpanya saat ia dalam perjalanan pulang dari sekolah. Insiden tersebut memaksa dokter untuk mengamputasi kaki kanannya.

​Bagi banyak orang, kehilangan salah satu anggota tubuh bisa menjadi akhir dari segalanya. Namun, Jufriadi memilih jalan berbeda. Keterbatasan raga itu justru menjadi bahan bakar baginya untuk membuktikan bahwa ia tidak akan menarik diri dari dunia luar.

3. Mengabdi sebagai pelatih Sekolah Sepak Bola (SSB)

Jufriadi saat mengasuh tim SSB (Dok. Pribadi)

​​Ketangguhan mental Jufriadi terbukti dari profesi yang ia jalani di kampung halamannya, Desa Sungai Paku, Kecamatan Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Siapa sangka, pria berkaki satu ini adalah seorang pelatih sepak bola yang dihormati.

​Kecintaannya pada lapangan hijau tak luntur oleh keadaan. Ia mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk membina bibit-bibit muda. "Sehari-hari saya melatih SSB Tuah Degi di Desa Sungai Paku," tuturnya dengan nada bangga saat menceritakan aktivitasnya di sela-sela waktu istirahat di Madinah.

4. Latihan fisik unik: Keliling lapangan bola dengan kruk

Jufriadi saat mengasuh tim SSB (Dok. Pribadi)

4. Latihan fisik unik: Keliling lapangan bola dengan kruk

​Jufriadi sangat sadar bahwa ibadah haji adalah ibadah fisik yang menuntut stamina prima, terlebih dengan kondisinya yang menggunakan alat bantu jalan. Karena itu, jauh-jauh hari sebelum jadwal keberangkatan, ia telah merancang program latihan fisiknya sendiri secara mandiri.

​Setiap hari, ia rutin berjalan kaki menggunakan kruknya mengelilingi lapangan bola tempatnya biasa melatih anak-anak SSB. "Persiapan fisik paling-paling jalan kaki, keliling lapangan bola. Insya Allah saya yakin menjalankan ibadah haji, Allah kuatkan," ucapnya optimis.

​Kini, pelatih SSB itu telah bersiap melangkah di Madinah dan Makkah. Tak lupa ia merapal doa untuk mendiang ayahnya serta jemaah lainnya. "Doa-doa semoga diterima amal ibadahnya, jadi haji yang mabrur. Semuanya sehat-sehat, kawan-kawan yang lagi berhaji juga semua lancar," pungkasnya. Kisah Jufriadi menjadi tamparan manis bagi kita semua: bahwa ketidaksempurnaan raga bukanlah penghalang untuk menjemput rida di rumah-Nya.

Editorial Team