Jakarta, IDN Times - Konflik yang terus membara di Timur Tengah tak hanya mengguncang kawasan itu sendiri. Perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina pun ikut terdampak, hingga memaksa negara tuan rumah mengambil keputusan sulit, yakni memangkas sejumlah agenda dan mengalihkan pertemuan fisik ke platform virtual.
Hal itu diakui langsung oleh Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. saat membuka KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Jumat (8/5/2025). Di hadapan para kepala negara dan delegasi dari seluruh kawasan, Marcos terus terang menyebut konflik Timur Tengah sebagai faktor yang memaksa Manila mengubah rencana penyelenggaraan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.
“Kami membuat keputusan sulit untuk merekalibrasi penyelenggaraan Keketuaan ASEAN kami sebagai respons atas konflik Timur Tengah, melalui pemotongan kegiatan-kegiatan yang tidak esensial dan pengalihan pertemuan yang berlaku dari platform fisik ke virtual,” kata Marcos dalam pidato pembukaannya.
Meski begitu, Marcos menegaskan, penyesuaian itu tidak berarti ASEAN berhenti bekerja. Ia justru menyerukan agar kawasan tetap bergerak maju — karena menurutnya, justru di tengah tantanganlah kerja ASEAN paling dibutuhkan.
