New Delhi, IDN Times - Regulator obat di India pada hari Jumat (20/8/2021) telah mengeluarkan izin penggunaan darurat vaksin COVID-19 berbasis DNA buatan perusahan farmasi bernama Zydus Cadila, yang dikenal dengan nama ZyCoV-D. Vaksin ini merupakan vaksin DNA pertama di dunia yang disetujui untuk digunakan dalam melawan virus corona.
India Setujui Vaksin DNA COVID-19 Pertama di Dunia

1. Vaksin akan diberikan tiga dosis
Melansir dari Reuters, vaksin DNA ZyCoV-D ini disetujui untuk diberikan kepada mereka yang berusia minimal 12 tahun. Penggunaan darurat ini diperbolehkan agar India bisa mencapai target vaksinasi semua orang dewasa yang memenuhi syarat pada bulan Desember.
Tidak seperti vaksin COVID-19 lainnya vaksin ZyCoV-D ini mermelukan tiga dosis vaksin agar dapat bekerja maksimal. Vaksin ini tidak akan menggunakan jarum, melainkan memakai sebuah alat injektor sekali pakai. Zydus Cadila telah memiliki rencana untuk memproduksi hingga 120 juta dosis vaksin setiap tahunnya.
Zydus Cadila pada bulan Juli telah mengajukan otorisasi vaksinya, yang menunjukkan hasil dari tingkat efikasi sebesar 66,6 persen dalam uji klinis tahap akhir terhadap lebih dari 28 ribu sukarelawan di seluruh negeri, termasuk 1.000 relawan dari kelompok usia 12-18 tahun, yang hasilnya menunjukkan aman untuk digunakan dalam kelompok usia ini.
ZyCoV-D pada bulan Juli telah diklaim ampuh melawan virus corona varian Delta, yang menyebar dengan luas di India dan menyebabkan sistem kesehatan kolaps.
2. Vaksin ZyCoV-D adalah vaksin kedua yang dibuat oleh perusahaan farmasi India
Melansir dari Anadolu Agency, Kementerian Sains dan Teknologi menyampaikan bahwa vaksin DNA yang dikembangkan oleh perusahaan faramasi dalam negeri ini dalam pembuatannya menjalin kerja sama dengan Departemen Bioteknologi.
Kementerian itu menjelaskan bahwa vaksin ini menggunakan DNA plasmid, sehingga dapat dengan mudah beradaptasi untuk menangani virus yang bermutasi. Vaksin ini bekerja dengan menghasilkan protein virus COVID-19 yang akan menimbulkan respons kekebalan dalam tubuh.
Vaksin buatan Zydus Cadila merupakan vaksin produksi India kedua setelah Covaxin, yang diproduksi oleh perusahaan farmasi Bharat Biotech. Dengan penambahan vaksin ZyCoV-D, maka saat ini India telah mengizinkan enam vaksin untuk digunakan.
Pada hari Jumat India telah mencatatkan lebih dari 570 juta dosis vaksin diberikan, sejak memulai vaksinasi pada bulan Januari. Saat ini sekitar 13 persen orang dewasa telah divaksinasi penuh dan 47 persen telah menerima satu dosis vaksin. Jumlah total kasus infeksi di India mencapai 32,3 juta kasus dan kematian sebanyak 433.589 kasus.
3. Keuntungan dan kelemahan vaksin DNA
Melansir dari BBC, menurut para ilmuwan vaksin DNA memiliki keuntungan biaya pembuatannya yang murah, juga aman dan stabil digunakan. Vaksin bisa disimpan pada suhu minus 2 hingga 8 derajat Celcius. Menurut klaim Zydus Cadila vaksin buatannya memiliki stabilitas yang baik saat disimpan pada suhu 25 derajat Celcius selama tiga bulan, mempermudah vaksin untuk diambil dan disimpan.
Dr Gagandeep Kang, ahli virus wanita India pertama yang meraih penghargaan Fellow of the Royal Society dari Inggris Raya, menyampaikan bahwa pengembangan vaksin DNA memiliki kendala, karena vaksin yang dapat bekerja dengan baik pada hewan ini tidak menghasilkan perlindungan yang serupa pada manusia.
Menurutnya Dr Kang dalam pengembangan vaksin ini tantangannya adalah membuat DNA plasmid ke dalam sel manusia agar dapat memberikan respon imun yang tahan lama. Dia menyampaikan jika vaksi DNA buatan India ini efektif, maka akan sangat membanggakan.
Dr Jeremy Kamil, seorang ahli virus dari Louisiana State University menyuarakan sentimen serupa seperti yang disampaikan Kang. Kamil memberitahu untuk memasukkan DNA plasmid ke dalam inti sel manusia, terutama pada orang dewasa sangat sulit dilakukan.
Vaksin ZyCoV-D juga memiliki kelemahan lainnya yaitu perlu memberikan tiga dosis, yang membuat target kekebalan kelompok menjadi lebih lama tercapai. Perusahaan itu telah meminta peninjauan agar vaksin bisa digunakan dua dosis.
Dibandingkan vaksin DNA penggunaan vaksin mRNA jauh lebih mudah karena tidak perlu mencapai inti sel agar efektif dan memungkinkan tingkat kemanjuran yang lebih tinggi dan berpotensi menghasilkan kekebalan yang lebih lama. Perusahaan yang mengembangkan vaksin mRNA adalah Pfizer-BioNTech dan Moderna.