Muhammad Lutfi ketika menyerahkan surat kredensial kepada Presiden Donald J. Trump di Gedung Putih (Dokumentasi KBRI Washington DC)
Sebelum ditunjuk menjadi Menteri Perdagangan oleh Presiden Jokowi, Lutfi baru dipercaya mewakili kepentingan Indonesia di AS pada 14 September 2020. Tiga hari kemudian, ia menemui Presiden Donald J. Trump di Gedung Putih untuk menyerahkan surat kredensial. Tetapi, kini ia harus meninggalkan pos yang baru diduduki selama empat bulan itu.
Lalu, siapa yang patut mengisi pos yang ditinggalkan oleh Lutfi? Dalam pandangan pengamat hubungan internasional lulusan Universitas Istanbul, Arya Sandiyudha, pengganti Lutfi harus memiliki kriteria "super dubes."
"Kalau dia pejabat karier, maka dia pasti adalah dubes senior di Kemlu kalau memang yang dicari dari kalangan diplomat. Kalau pun penggantinya dari kalangan politikus, maka dia memang betul-betul beyond politician. Dia harus memiliki kapabilitas sebagai diplomat," ungkap pria yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) ketika dihubungi IDN Times melalui telepon hari ini.
Arya melanjutkan pengganti Lutfi bisa berasal anggota DPR yang pernah duduk di Komisi I yang membidangi pertahanan, luar negeri, intelijen dan komunikasi. Selain itu, politikus tersebut sebaiknya juga pernah duduk sebagai dubes di negara yang prestisius.
"Karena AS ini adalah negara great power. Dia memiliki pengaruh strategis di kawasan Indo Pasifik di mana Indonesia ikut di dalamnya," kata Arya.
Ia mengatakan pergantian posisi Dubes RI di Negeri Paman Sam bersamaan momentumnya dengan peralihan pemerintahan dari Partai Republik ke Demokrat. Ketika AS dipimpin Joe Biden pada Januari 2021, maka diprediksi sebagian besar kebijakannya akan meniru Barack Obama saat masih duduk sebagai presiden. Biden diketahui menjadi wapres yang mendampingi Obama selama delapan tahun.
Ketika ditanya kandidat politikus yang sesuai dengan kriteria itu, Arya sempat melontarkan Tantowi Yahya dinilai pas untuk kriteria tersebut.