Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Iran Masih Punya Cukup Drone dan Rudal untuk Tutup Selat Hormuz
misil Iran.
  • Iran masih memiliki cadangan drone dan rudal signifikan, bahkan mampu memulihkan hingga 70 persen persenjataannya setelah serangan AS-Israel dan gencatan senjata yang rapuh.
  • Perang menunjukkan ketimpangan biaya besar: drone Iran murah dibandingkan rudal pencegat mahal milik AS, membuat Washington menghabiskan miliaran dolar hanya dalam beberapa hari.
  • Ketegangan meningkat ketika AS menyita kapal berbendera Iran di dekat Selat Hormuz, memicu kecaman keras dari Teheran yang menuduh tindakan itu sebagai pembajakan bersenjata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pejabat intelijen dan militer Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa Iran masih memiliki cadangan persenjataan yang signifikan setelah digempur selama berminggu-minggu. Negara tersebut dilaporkan sedang berupaya memulihkan rudal dan drone-nya di tengah gencatan senjata yang rapuh.

Dengan sisa persenjataannya, Iran diperkirakan masih akan mampu memblokade Selat Hormuz. Baru-baru ini, negara tersebut juga memutuskan untuk kembali menutup selat vital tersebut.

"Semua orang kini tahu bahwa jika ada konflik di masa depan, menutup selat akan menjadi hal pertama dalam buku pedoman Iran. Anda tidak bisa mengalahkan geografi," kata mantan pejabat intelijen militer Israel Danny Citrinowicz, dilansir The New York Times pada Senin (20/4/2026).

1. Iran diprediksi mampu pulihkan hingga 70 persen senjatanya

pasukan Garda Revolusi Iran (Mehr News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Berdasarkan laporan intelijen, Iran saat ini masih memiliki sekitar 40 persen cadangan drone mereka dari sebelum perang. Mereka juga berhasil mempertahankan lebih dari 60 persen peluncur rudalnya dari serangan AS-Israel.

Angka ini diprediksi akan bertambah karena militer Iran sedang berupaya mengevakuasi aset militernya. Sumber pejabat AS memperkirakan Iran akan mampu memulihkan hingga 70 persen persenjataannya dari hasil pencarian di bawah reruntuhan.

Sejak gencatan senjata dimulai pada 8 April, Iran telah mengambil kembali lebih dari 100 sistem peluncur rudal. Senjata-senjata tersebut sebelumnya sengaja disembunyikan di dalam gua dan bunker rahasia.

2. Perbandingan biaya drone Iran dan pencegat AS

ilustrasi serangan drone Shahed-136 buatan Iran (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Kemampuan drone Iran telah memaksa AS menggelontorkan dana besar dalam perang ini. Sebagai perbandingan, drone buatan Iran seperti Shahed-136 hanya menelan biaya produksi sekitar 35 ribu dolar AS (sekitar Rp601 juta).

Sementara itu, AS harus mengerahkan rudal pencegat berteknologi tinggi yang mahal. Contohnya, dua rudal SM-2 yang ditembakkan dari kapal perusak Angkatan Laut AS bernilai sekitar 4,2 juta dolar AS (sekitar Rp72,1 miliar).

Sistem pertahanan udara Patriot bahkan jauh lebih mahal karena sepasang peluru kendali PAC-3 MSE memakan biaya hingga 8 juta dolar AS (sekitar Rp137 miliar). Ketimpangan ini membuat AS menghabiskan 11,3 miliar dolar AS (sekitar Rp194 triliun) hanya dalam enam hari pertama perang.

"Ketakutan saya adalah kita akan kehabisan barang-barang ini. Bukan berarti kita tidak mampu membelinya, tetapi kita akan kehabisan sebelum kita bisa menggantinya," tutur Direktur Proyek Pertahanan Rudal di Center for Strategic and International Studies, Tom Karako.

3. AS sita kapal berbendera Iran yang coba menerobos blokade

ilustrasi kapal kargo

Dinamika konflik kian memanas setelah militer AS menyita kapal kargo berbendera Iran bernama Touska. Kapal komersial tersebut dihentikan secara paksa karena nekat mencoba menerobos blokade laut AS di dekat Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump mengklaim awak kapal Iran menolak peringatan dari kapal perusak Angkatan Laut AS. Pasukan AS akhirnya menembakkan peluru hingga menembus ruang mesin kapal untuk menghentikan lajunya.

Insiden ini langsung dikecam oleh jajaran petinggi militer Iran. Mereka menilai AS telah melakukan pembajakan yang mencederai kesepakatan gencatan senjata.

"Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera merespons. Kami akan membalas pembajakan bersenjata oleh militer AS ini," tegas juru bicara Khatam al-Anbiya, dilansir Al Jazeera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team