Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Iran Rekrut Anak 12 Tahun Jadi Pasukan Militer Volunteer
ilustrasi pasukan militer (pexels.com/Somchai Kongkamsri)
  • Pemerintah Iran melalui IRGC mulai merekrut anak usia minimal 12 tahun sebagai pasukan militer sukarela untuk membantu menjaga keamanan negara di tengah konflik dengan AS dan Israel.
  • Anak-anak yang direkrut akan bertugas menjaga pos pemeriksaan serta melakukan patroli dan pengumpulan data keamanan di Teheran, tanpa diterjunkan langsung ke medan perang.
  • Pasukan volunteer muda ini akan dibekali senjata mesin dengan pengawasan ketat, sementara perang antara Iran melawan AS dan Israel telah memasuki minggu keempat tanpa kesepakatan damai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran dilaporkan sedang merekrut anak berusia minimal 12 tahun untuk menjadi pasukan militer. Kabar tersebut disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Kamis (26/3/2026). 

IRGC menjelaskan, anak-anak tersebut direkrut secara sukarela. Artinya, mereka tidak dibayar oleh pemerintah. Meski begitu, IRGC menyebut anak-anak di Iran sangat antusias mengikuti perekrutan pasukan militer tersebut. Sebab, mereka ingin membantu mengamankan Iran dari serangan Amerika Serikat dan Israel.

“Kami memiliki jumlah sukarelawan yang sangat tinggi di kalangan anak muda dan remaja yang ingin berpartisipasi,” ujar salah satu pejabat IRGC yang bertugas di Teheran, Rahim Nadali, seperti dilansir Times of Israel, Jumat (27/3/2026).

1. Usia minimum anak yang boleh jadi pasukan volunteer sebelumnya bukan 12 tahun

ilustrasi pasukan militer (pexels.com/Thang Cao)

Dalam pernyataannya, Nadali menambahkan, usia minimum yang disyaratkan dalam perekrutan ini sebelumnya bukan 12 tahun, tetapi 13 tahun ke atas. Namun, IRGC memutuskan untuk menurunkan syarat tersebut. Sebab, kata Nadali, anak-anak remaja di Iran yang berusia 12 juga banyak yang ingin direkrut menjadi pasukan volunteer.

“Mempertimbangkan usia mereka yang ingin bergabung, kami sekarang telah menurunkan usia minimum menjadi 12 tahun. Sebab, anak-anak berusia 12 sampai 13 tahun juga ingin terlibat,” jelas Nadali.

Oleh karena itu, kini, anak-anak remaja di Iran yang berusia 12 tahun atau lebih bisa menjadi pasukan militer volunteer dengan mengikuti perekrutan yang dibuka oleh IRGC. 

2. Anak-anak yang telah direkrut akan mendapat sejumlah tugas

ilustrasi tugas (pexels.com/MART PRODUCTION)

Nantinya, anak-anak yang telah direkrut menjadi prajurit akan bertugas menjaga pos pemeriksaan yang ada di Ibu Kota Teheran. Namun, mereka tidak akan diterjunkan untuk berperang melawan AS dan Israel. Sebab, itu merupakan tugas pasukan militer utama, bukan pasukan militer volunteer

Sebagai informasi, pos pemeriksaan merupakan salah satu mekanisme keamanan yang dibuat oleh IRGC selama berperang dengan AS dan Israel. Pos tersebut tersebar di seluruh wilayah yang ada di Teheran. Jadi, seluruh warga Iran yang ingin keluar atau masuk ke Teheran harus diperiksa di pos pemeriksaan terlebih dahulu. Setelah itu, barulah mereka diizinkan masuk atau keluar dari Teheran.

Selain menjaga pos pemeriksaan, anak-anak tersebut juga akan mendapatkan tugas lainnya. Beberapa di antaranya, seperti mengumpulkan data keamanan dan melakukan patroli di Teheran. 

3. Pasukan militer volunteer juga akan dilengkapi senjata

ilustrasi senjata api (pexels.com/Karolina Grabowska)

Untuk menjalankan tugasnya, pasukan militer volunteer juga akan dilengkapi senjata, terutama senjata mesin seperti yang dimiliki oleh pasukan senior. Namun, penggunaannya tetap akan diawasi. Perekrutan ini terjadi di saat perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlangsung. Bahkan, perang kini sudah memasuki minggu ke-4 alias sudah berjalan satu bulan. 

Untuk mengakhiri perang, beberapa waktu lalu, AS sudah mengirim proposal perdamaian ke Iran. Namun, proposal itu ditolak oleh Iran karena dianggap hanya menguntungkan AS. 

Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump, juga sudah memaksa Iran untuk menyerah. Sebab, menurutnya, Iran sudah kalah secara militer. Trump juga sudah mengancam akan menyerang dengan kekuatan yang lebih besar jika Iran tidak kunjung mengakui kekalahannya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team