Jakarta, IDN Times - Pekan ini, Iran menghadapi salah satu momen paling krusial dalam sejarahnya. Ali Khamenei, pemimpin tertinggi yang sudah memegang kendali selama lebih dari tiga dekade, tewas dalam serangan udara gabungan AS dan Israel. Di tengah guncangan itu, dunia menahan napas: Siapa yang akan mengisi kekosongan kekuasaan di Tehran?
Dan lebih penting lagi, apakah Iran akan melakukannya dengan caranya sendiri, atau di bawah tekanan dari luar? Jawabannya datang pada 8 Maret 2026, ketika Assembly of Experts, badan 88 ulama penentu pemimpin tertinggi Iran, secara resmi memilih Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin yang baru saja gugur. Tanpa kompromi. Tanpa meminta restu siapa pun.
