Perbatasan Rafah. (Gigi Ibrahim, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)
Al Jazeera melansir, operasional harian di sisi Gaza kini dijalankan oleh staf lokal Palestina di bawah pengawasan Misi Bantuan Perbatasan Uni Eropa (EUBAM). Israel tidak menempatkan tentara di lokasi, melainkan melakukan pengawasan jarak jauh.
Daftar nama warga yang hendak melintas harus diserahkan terlebih dahulu kepada pihak Mesir dan diverifikasi oleh intelijen Israel sehari sebelumnya. Israel dan Mesir menyepakati pembatasan ketat dengan kuota hanya 50 orang per hari untuk masing-masing arah, baik keluar maupun masuk Gaza.
Militer Israel telah mendirikan pos pemeriksaan baru bernama "Regavim" di luar area penyeberangan untuk memantau warga yang masuk dari Mesir. Tentara di pos tersebut bertugas memverifikasi identitas pelintas berdasarkan daftar yang disetujui serta menggeledah barang bawaan.
Meski akses orang mulai dibuka, otoritas Israel menegaskan jalur ini belum berlaku untuk angkutan barang komersial maupun bantuan kemanusiaan. Padahal, selama ini Rafah merupakan pintu masuk vital bagi pasokan ke Gaza.
“Siapa pun yang melintasi Garis Kuning (wilayah kendali Israel) akan disambut dengan tembakan,” ancam Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dilansir BBC.