Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
perbatasan Rafah
perbatasan Rafah. (أشرف العناني from alshekh zwaed, egypt, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Mekanisme pengawasan Uni Eropa dan pos pemeriksaan baru

  • Sekitar 20 ribu pasien Gaza perlu dievakuasi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Otoritas Israel membuka kembali penyeberangan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dan Mesir pada Senin (2/2/2026). Pembukaan akses khusus pejalan kaki ini menjadi yang pertama sejak pasukan Israel merebut kendali sisi Palestina pada Mei 2024.

Badan administrasi Israel untuk Gaza (COGAT) menegaskan operasional gerbang masih sangat terbatas. Tel Aviv hanya mengizinkan lusinan pelintas setiap harinya dengan mekanisme pemeriksaan keamanan berlapis yang melibatkan pihak internasional.

1. Mekanisme pengawasan Uni Eropa dan pos pemeriksaan baru

Perbatasan Rafah. (Gigi Ibrahim, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)

Al Jazeera melansir, operasional harian di sisi Gaza kini dijalankan oleh staf lokal Palestina di bawah pengawasan Misi Bantuan Perbatasan Uni Eropa (EUBAM). Israel tidak menempatkan tentara di lokasi, melainkan melakukan pengawasan jarak jauh.

Daftar nama warga yang hendak melintas harus diserahkan terlebih dahulu kepada pihak Mesir dan diverifikasi oleh intelijen Israel sehari sebelumnya. Israel dan Mesir menyepakati pembatasan ketat dengan kuota hanya 50 orang per hari untuk masing-masing arah, baik keluar maupun masuk Gaza.

Militer Israel telah mendirikan pos pemeriksaan baru bernama "Regavim" di luar area penyeberangan untuk memantau warga yang masuk dari Mesir. Tentara di pos tersebut bertugas memverifikasi identitas pelintas berdasarkan daftar yang disetujui serta menggeledah barang bawaan.

Meski akses orang mulai dibuka, otoritas Israel menegaskan jalur ini belum berlaku untuk angkutan barang komersial maupun bantuan kemanusiaan. Padahal, selama ini Rafah merupakan pintu masuk vital bagi pasokan ke Gaza.

“Siapa pun yang melintasi Garis Kuning (wilayah kendali Israel) akan disambut dengan tembakan,” ancam Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dilansir BBC.

2. Sekitar 20 ribu pasien Gaza perlu dievakuasi

ilustrasi perbatasan Gaza. (unsplash.com/Emad El Byed)

Prioritas utama pelintas keluar Gaza adalah warga yang sakit dan terluka parah. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat sekitar 20 ribu warga Palestina saat ini masuk dalam daftar tunggu mendesak untuk mendapatkan perawatan medis di luar negeri.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan mengambil peran sebagai koordinator transfer pasien dari wilayah kendali Hamas menuju perbatasan. Laporan media Israel menyebutkan setiap harinya hanya 50 pasien, masing-masing didampingi dua kerabat, diizinkan meninggalkan wilayah konflik tersebut.

Pengaktifan kembali Rafah merupakan syarat penting dalam tahap pertama rencana gencatan senjata yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Kesepakatan yang mulai berlaku sejak Oktober itu bertujuan meredakan ketegangan antara Israel dan Hamas setelah dua tahun pertempuran.

Fase selanjutnya dari proposal perdamaian Trump mencakup transisi pemerintahan Gaza kepada teknokrat Palestina. Namun, implementasi tahap lanjut masih menghadapi kendala karena Hamas menolak menyerahkan persenjataan mereka secara damai.

3. Pembukaan Rafah sempat tertunda

pemandangan reruntuhan di Gaza. (pixabay.com/hosnysalah)

Realisasi pembukaan gerbang sempat tertunda karena pemerintah Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menetapkan syarat pemulangan jenazah sandera terakhir. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) baru menyetujui pembukaan akses setelah berhasil mengevakuasi jasad Sersan Ran Gvili dari sebuah makam di Gaza utara pekan lalu.

Meskipun perbatasan dibuka, situasi keamanan di lapangan tetap rapuh dan diwarnai insiden mematikan. Jet tempur Israel melancarkan serangkaian serangan udara pada Sabtu lalu yang menewaskan sedikitnya 32 warga Palestina di berbagai lokasi.

Tel Aviv mengklaim bombardir tersebut merupakan respons atas pelanggaran kesepakatan damai oleh milisi Hamas. Otoritas militer melaporkan adanya aktivitas militan yang muncul dari terowongan di sekitar Rafah sehari sebelum serangan balasan dilancarkan.

Konflik berkepanjangan telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar di sisi Palestina. Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas melaporkan lebih dari 71.790 warga tewas sejak operasi militer Israel dimulai sebagai respons atas serangan 7 Oktober 2023.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team