Washington dan Teheran telah memulai putaran ketiga pembicaraan nuklir di Jenewa, yang dimulai pada 26 Februari 2026. Pembicaraan tidak langsung tingkat tinggi dilanjutkan awal bulan ini untuk pertama kalinya setelah sekitar delapan bulan, di tengah meningkatnya tekanan militer dari AS.
Pihak Teheran menyatakan bahwa hanya pengembangan nuklir Iran dan pencabutan sanksi yang akan dibahas dalam putaran ketiga pembicaraan tersebut.
"Kami siap menjawab pertanyaan. Kami siap menghilangkan kekhawatiran. Di Jenewa, ada kemungkinan besar untuk mencapai solusi yang disepakati, yang adil dan seimbang," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada sebuah media India.
Situs berita AS Axios melaporkan bahwa utusan Gedung Putih, Steve Witkoff, dalam pertemuan tertutup pada Selasa (24/2/2026) mengatakan pemerintahan Trump menuntut agar Teheran menyetujui bahwa setiap kesepakatan nuklir di masa mendatang akan tetap berlaku tanpa batas waktu. Media telah menunjuk pada ketentuan dalam kesepakatan nuklir pada 2015, yang menetapkan bahwa sebagian besar pembatasan pada program nuklir Iran akan secara bertahap berakhir setelah jangka waktu tertentu.
AS telah mengerahkan aset militer skala besar, termasuk kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford ke Timur Tengah. Kedua kapal induk tersebut memimpin kelompok penyerang dengan beberapa kapal perang perusak rudal berpemandu. Peningkatan tekanan militer tersebut merupakan upaya AS dalam membawa Iran kembali ke meja perundingan terkait nuklir dan mencapai kesepakatan.