Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jurnalis Jepang yang Ditahan di Iran Dibebaskan dengan Jaminan
Ilustrasi borgol. (pexels.com/Kindel Media)
  • Seorang jurnalis Jepang yang ditahan di Iran sejak Januari 2026 dibebaskan dengan jaminan, namun belum diizinkan meninggalkan negara tersebut dan masih menghadapi dakwaan pelanggaran keamanan.
  • Pemerintah Jepang terus menekan Iran agar mengizinkan warganya pulang, sementara PM Sanae Takaichi berencana berdialog dengan AS dan Iran untuk meredakan ketegangan kawasan.
  • Ketegangan meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz, memicu kekhawatiran pasokan minyak global; Trump memperingatkan tindakan keras jika blokade tidak segera dibuka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jepang mengonfirmasi bahwa seorang jurnalis asal Jepang yang ditahan di Iran sejak Januari 2026 telah dibebaskan dengan jaminan, pada Senin (6/4/2026) waktu setempat. Meski telah dibebaskan dari tahanan, individu tersebut dilaporkan belum diizinkan meninggalkan negara itu.

Pemerintah menolak menyebutkan nama demi privasi, meski laporan sebelumnya mengidentifikasi individu tersebut sebagai Kepla Biro NHK di Teheran. Sumber pemerintah menyebutkan adanya dakwaan terkait pelanggaran keamanan, dan jurnalis tersebut diperkirakan akan tetap menghadapi persidangan.

Duta Besar Jepang untuk Iran, Tamaki Tsukada, telah bertemu langsung dengan yang bersangkutan dan memastikan bahwa ia dalam kondisi sehat, dilansir Kyodo News.

1. Respons pemerintah Jepang dan NHK

Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi. (x.com/MOFA of Japan)

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, menyatakan bahwa Tokyo terus mendesak Teheran agar mengizinkan warganya segera pulang tanpa syarat. Langkah diplomasi ini sebelumnya telah diupayakan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Toshimitsu Motegi dalam pembicaraan dengan Menlu Iran, Abbas Araghchi.

Di sisi lain, lembaga penyiaran publik NHK memilih untuk tidak berkomentar banyak mengenai detail kasus ini.

"Kami terus menjalankan misi sebagai media untuk mencapai perdamaian sambil memprioritaskan keselamatan seluruh staf kami," demikian pernyataan resmi NHK.

Pembebasan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah pecahnya permusuhan yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran pada 28 Februari 2026. Jurnalis tersebut merupakan warga negara Jepang kedua yang ditahan di Iran baru-baru ini. Tahanan pertama telah lebih dulu dibebaskan dan kembali ke Jepang pada 22 Maret lalu.

2. PM Jepang bersedia berbicara dengan Iran di tengah meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (x.com/takaichi_sanae)

Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi telah menyatakan kesediaannya untuk mengadakan pembicaraan telepon terpisah dengan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Ia bermaksud untuk bernegosiasi pada tahap selanjutnya.

Takaichi mengatakan bahwa ia harus berkomunikasi dengan pihak Washington dan Teheran, dan sedang mengupayakan pembicaraan untuk tujuan tersebut.

"Jepang berharap dapat membahas pengamanan jalur aman di Selat Hormuz. Jika negara-negara tetangga Iran diserang secara besar-besaran dan berbagai infrastruktur dihancurkan, situasi serius akan terus berlanjut di seluruh Timur Tengah," kata Takaichi di Komite Anggaran Majelis Tinggi pada Selasa (7/4/2026).

3. Trump desak Iran membuka blokade Selat Hormuz

Bendera Iran. (Unsplash.com/sina drakhshani)

Jepang sangat terpukul oleh konflik Timur Tengah. Sebab, negara tersebut sangat miskin sumber daya dan bergantung pada kawasan itu untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya. Sebagian besar minyak tersebut melewati Selat Hormuz, jalur utama pengiriman energi global yang secara efektif telah ditutup oleh Iran. Akibatnya, memicu kekhawatiran tentang pasokan minyak dan mendorong harga lebih tinggi.

Di sisi lain, Trump telah memperpanjang penangguhan ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran dengan menggeser tenggat waktu bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz dari 6 April ke 7 April.

"Jika mereka tidak menepati janji, jika mereka ingin tetap menutupnya, mereka akan kehilangan setiap pembangkit listrik dan setiap pabrik lain yang mereka miliki di seluruh negeri," kata Trump dalam sebuah wawancara pada 5 April 2026 dengan The Wall Street Journal.

Trump juga mengunggah di media sosial tanpa memberikan penjelasan, 'Selasa, pukul 20.00 Waktu Bagian Timur!'

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team