Ribuan pengungsi Rohingya berjalan kaki dari Myanmar ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri. ANTARA FOTO/REUTERS/Cathal McNaughton
Tim Pencari Fakta yang diutus Dewan HAM PBB merilis laporan setebal 444 halaman yang menyebut pejabat militer Myanmar melakukan "kejahatan terberat dalam hukum internasional"—atau dengan kata lain genosida—serta menuntut mereka diadili oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Dua pengungsi Rohingya di Indonesia yang ditemui IDN Times, Muhammad Shuaibe dan Arfat, pun menilai Aung San Suu Kyi bertanggung jawab atas krisis di Rakhine. "Dia diam saja lho. Berarti dia juga salah, kan? Kerja dia dulu kan soal human rights. Kalau human rights ya jangan lihat siapa dia. Dulu dia dapat [kekuasaan] itu karena Muslim. Banyak Muslim yang dukung dia," tutur Shuaibe.
Sedangkan Arfat menyimpulkan bahwa Aung San Suu Kyi "tidak berani" melawan militer karena kepentingan kekuasaan. Arfat yakin Aung San Suu Kyi "merasa malu" karena tidak bisa menjalankan otoritas moralnya sebagai pemenang Nobel Perdamaian. "Dia gak ngomong jelas [soal krisis Rohingya] karena takut sama tentara," ucapnya.