Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ke Mana Mojtaba akan Membawa Iran dalam Kepemimpinannya?
Mojtaba Khamenei (tengah) dan putranya pada pawai Hari Kemenangan tanggal 8 Juni 2018 (Fars Media Corporation, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Mojtaba Khamenei resmi menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran, membawa ketidakpastian arah politik dan hubungan internasional negara tersebut.
  • Dukungan dari elite politik dan militer menunjukkan konsolidasi kekuasaan, meski Iran tengah menghadapi tekanan perang serta krisis ekonomi akibat sanksi panjang.
  • Di dalam negeri, masyarakat terbelah antara dukungan dan protes, menandakan tantangan besar bagi Mojtaba dalam menjaga stabilitas sosial dan politik Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran dinilai sebagai langkah besar yang membawa berbagai ketidakpastian bagi posisi negara tersebut di panggung internasional. Ia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang sebelumnya memimpin Iran selama puluhan tahun.

Mojtaba selama ini dikenal memiliki pandangan yang lebih keras dan ideologis dibandingkan ayahnya. Ia juga disebut memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) serta birokrasi negara.

Dikutip dari Al Jazeera, Senin (9/3/2026), reputasinya sebagai tokoh garis keras sekaligus putra dari pemimpin tertinggi sebelumnya dinilai memberi posisi unik dalam struktur politik Iran. Status tersebut dinilai dapat memberinya ruang yang lebih luas untuk mengambil langkah-langkah perubahan di dalam sistem.

Legitimasi yang dimiliki Mojtaba menjadi faktor penting dalam proses suksesi kepemimpinan tersebut. Tanpa faktor tersebut, pemilihan pemimpin tertinggi baru berpotensi menimbulkan krisis legitimasi di dalam negeri.

Bagaimana nasib Iran di bawah kepemimpinan Mojtaba?

1. Mojtaba bisa mengubah arah Iran

Putra Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Sejumlah pengamat menilai kepemimpinan Mojtaba Khamenei berpotensi membawa Iran ke dua arah yang sangat berbeda. Arah pertama adalah memperkuat garis keras dalam kebijakan politik negara.

Jika memilih jalur tersebut, Iran berpotensi semakin terpolarisasi di dalam negeri dan semakin terisolasi di tingkat regional maupun internasional.

Di sisi lain, terdapat kemungkinan kepemimpinannya justru membuka jalan bagi perubahan kebijakan, termasuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara di kawasan. Langkah tersebut juga dapat mencakup upaya memberikan sinyal kepada Amerika Serikat bahwa Iran bersedia melakukan transformasi dalam hubungan internasionalnya.

Pilihan kebijakan yang diambil oleh pemimpin baru Iran tersebut masih menjadi perhatian berbagai pihak di tengah situasi geopolitik yang sedang berkembang.

2. Dukungan elite politik dan militer Iran

Mojtaba Khamenei dan putranya pada pawai Hari Kemenangan tanggal 8 Juni 2018 (Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Di tengah pergantian kepemimpinan tersebut, berbagai pesan dukungan muncul dari kalangan elite politik dan militer Iran. Dukungan ini menunjukkan adanya konsolidasi di dalam struktur kekuasaan negara.

Mojtaba Khamenei mengambil alih jabatan dalam situasi yang dinilai sangat sulit. Negara tersebut saat ini sedang menghadapi konflik yang dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Situasi perang tersebut menambah tekanan terhadap pemerintahan baru di Teheran. Konflik yang masih berlangsung turut mempengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah secara lebih luas.

Selain tantangan keamanan, Iran juga menghadapi persoalan ekonomi yang serius. Bertahun-tahun sanksi internasional serta berbagai persoalan pengelolaan dalam negeri telah melemahkan kondisi ekonomi negara tersebut.

3. Dinamika politik Iran yang dihadapi Mojtaba

Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei (AFP / Khamenei.ir)

Di dalam negeri, dinamika sosial juga menjadi tantangan bagi pemimpin baru Iran. Sejak pengumuman penunjukannya, sejumlah warga terlihat berkumpul di beberapa wilayah di Teheran.

Di pusat kota, sebagian pendukung menggelar aksi untuk menyatakan dukungan terhadap kepemimpinan Mojtaba Khamenei. Dukungan serupa juga terlihat di Lapangan Enghelab atau Revolution Square, salah satu pusat politik penting di ibu kota.

Situasi tersebut mencerminkan munculnya semangat solidaritas nasional di tengah konflik yang sedang berlangsung. Namun para pengamat mengingatkan, masyarakat Iran tetap berada dalam kondisi yang terpolarisasi. Pada akhir Desember lalu, gelombang protes besar terjadi di berbagai wilayah negara tersebut.

Aksi tersebut awalnya dipicu oleh kesulitan ekonomi, tetapi kemudian berkembang menjadi tuntutan politik dan sosial yang lebih luas. Karena itu, sebenarnya masih menjadi pertanyaan bagaimana pemimpin tertinggi baru Iran akan menghadapi berbagai kompleksitas yang melibatkan aspek politik, ekonomi, dan sosial di dalam negeri.

Editorial Team