Jakarta, IDN Times - Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran dinilai sebagai langkah besar yang membawa berbagai ketidakpastian bagi posisi negara tersebut di panggung internasional. Ia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang sebelumnya memimpin Iran selama puluhan tahun.
Mojtaba selama ini dikenal memiliki pandangan yang lebih keras dan ideologis dibandingkan ayahnya. Ia juga disebut memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) serta birokrasi negara.
Dikutip dari Al Jazeera, Senin (9/3/2026), reputasinya sebagai tokoh garis keras sekaligus putra dari pemimpin tertinggi sebelumnya dinilai memberi posisi unik dalam struktur politik Iran. Status tersebut dinilai dapat memberinya ruang yang lebih luas untuk mengambil langkah-langkah perubahan di dalam sistem.
Legitimasi yang dimiliki Mojtaba menjadi faktor penting dalam proses suksesi kepemimpinan tersebut. Tanpa faktor tersebut, pemilihan pemimpin tertinggi baru berpotensi menimbulkan krisis legitimasi di dalam negeri.
Bagaimana nasib Iran di bawah kepemimpinan Mojtaba?
