potret Eva Perón (commons.wikimedia.org/Torsade de Pointes)
Salah satu penyamaran pemerintah yang paling mengerikan terjadi di Argentina pada 1950-an dan melibatkan kehidupan dan kematian Eva Peron, seorang revolusioner dan Ibu Negara Presiden. Pada 1951, di puncak ketenarannya, Eva Peron didiagnosis menderita kanker serviks stadium lanjut. Dokter memberi tahu bahwa dia hanya memiliki waktu beberapa bulan saja. Meskipun pengobatannya sangat signifikan, Peron meninggal pada 1952 saat berusia 33 tahun.
Dikutip laman BBC, pada 2015, seorang peneliti medis dari Universitas Yale memperoleh pemindaian sinar-X dari tubuh Eva Peron dan menemukan bekas bor di tengkoraknya. Faktanya, dia pernah dilobotomi di beberapa titik selama hidupnya. Prosedur tersebut diketahui merupakan tindakan radikal untuk mengatasi rasa sakit.
Lobotomi mungkin dilakukan untuk menenangkan Eva saat dia berjuang mengatasi kankernya. Akan tetapi, banyak peneliti yang mengaitkannya dengan aksi percobaan pembunuhan. Itu karena Eva Peron menghasut banyak masyarakat pada bulan-bulan terakhir hidupnya terkait fasisme hingga memicu aksi kekerasan. Kita mungkin tidak akan pernah tahu motivasi di balik lobotomi yang dilakukan kepada Eva Peron, tetapi laporan resmi terkait kematiannya meninggalkan banyak pertanyaan yang membingungkan.
Kejujuran memang mahal harganya, tapi ada alasan-alasan tertentu mengapa seseorang berkata bohong. Hal yang sama juga berlaku bagi pemerintah yang memiliki otoritas dan kepentingan tertentu. Meskipun tidak selalu bisa dibenarkan, kebenaran mungkin akan terungkap pada waktunya.