Jakarta, IDN Times - Kelompok hak asasi manusia menuduh otoritas Iran melakukan taktik intimidasi dan pemerasan terhadap keluarga demonstran yang tewas dalam protes antipemerintah. Otoritas juga dituding memaksa keluarga korban mengklaim bahwa para demonstran yang tewas merupakan anggota aparat keamanan, dan mencegah mereka menggelar pemakaman yang layak.
Hossein Mahmoudi, misalnya, tewas ditembak oleh pasukan keamanan pada 8 Januari di Falavarjan, di luar kota Isfahan, tapi jenazahnya baru ditemukan oleh keluarganya 8 hari kemudian. Pihak berwenang akhir menyerahkan jenazahnya setelah mengancam pihak keluarga agar tidak buka suara mengenai kasus tersebut dan memaksa mereka membayar sejumlah uang setara Rp46 juta.
"Kerabat diberi tahu bahwa jenazah orang-orang yang mereka cintai akan ditahan kecuali mereka membayar sejumlah uang yang sangat besar, menandatangani surat pernyataan, atau membuat pernyataan publik yang secara palsu menyebut bahwa anggota keluarga mereka yang meninggal merupakan anggota Basij,” kata Amnesty Interasional. Basij adalah paramiliter sukarelawan yang beroperasi di bawah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Kelompok itu juga mencatat sedikitnya satu kasus di mana sebuah keluarga belum dapat mengambil jenazah kerabat mereka karena tidak mampu membayar uang tebusan, dilansir dari The New Arab.
