Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kim Jong Un dan Menteri Pertahanan Rusia berpartisipasi dalam serangkaian upacara resmi untuk merayakan peringatan 70 tahun Hari Kemenangan dalam Perang Pembebasan Tanah Air Besar. (Mil.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Kim Jong Un dan Menteri Pertahanan Rusia berpartisipasi dalam serangkaian upacara resmi untuk merayakan peringatan 70 tahun Hari Kemenangan dalam Perang Pembebasan Tanah Air Besar. (Mil.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Kim klaim roket ubah konsep artileri modern, berukuran dua kali lebih besar dan dilengkapi teknologi kecerdasan buatan serta panduan gabungan.

  • Analis soroti jangkauan roket 600 mm yang diperkirakan mencapai 400 kilometer, mampu melumpuhkan kekuatan udara gabungan Korsel dan AS.

  • Kim tegaskan agenda pertahanan mandiri dalam kongres mendatang untuk memperkuat pertahanan Korut sekaligus mengumumkan fase lanjutan dari inisiatif tersebut.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Media pemerintah Korea Utara (Korut), KCNA, melaporkan bahwa Pemimpin Korut Kim Jong Un turun langsung mengemudikan kendaraan peluncur roket multiple berkaliber 600 mm yang dapat membawa hulu ledak nuklir dalam seremoni di Pyongyang pada Rabu (18/2/2026). Sebanyak 50 kendaraan peluncur-pengangkut-erektor berporos empat dipamerkan, masing-masing memuat lima tabung roket yang disusun dalam tujuh baris di lapangan depan Gedung Budaya 25 April.

Foto resmi menunjukkan Kim mengenakan jaket hitam dan turun dari kendaraan di dekat panggung utama, disambut ribuan warga yang mengibarkan bendera kecil Korut, sementara gambar lain menangkap dirinya tersenyum saat berada di kursi kemudi.

“Ia secara pribadi mengemudikan kendaraan peluncur untuk meninjau persenjataan yang melambangkan kekuatan mutlak yang berbaris di alun-alun tempat Kongres Partai yang mulia,” tulis KCNA pada Kamis (19/2/2026), dikutip dari CNN. Acara tersebut digelar menjelang Kongres Kesembilan Partai Buruh yang rutin berlangsung lima tahunan.

1. Kim klaim roket ubah konsep artileri modern

ilustrasi rudal (pexels.com/Aseem Borkar)

Kim menyatakan roket 600 mm itu berukuran dua kali lebih besar dibanding rata-rata sistem roket multiple lain dan memiliki kemampuan setara rudal balistik jarak pendek. Ia juga menyebut sistem tersebut telah dipasangi teknologi kecerdasan buatan (AI) serta panduan gabungan yang membuatnya berbeda dari persenjataan lain.

KCNA mengutip pernyataannya yang menegaskan tak ada negara lain memiliki sistem serupa dan bahwa senjata itu telah mengubah fungsi serta konsep artileri dalam peperangan modern. Ia turut menggambarkannya sebagai sistem luar biasa dan menarik sekaligus yang paling menguntungkan untuk serangan super kuat terkonsentrasi.

“Ketika senjata ini benar-benar digunakan, tidak ada kekuatan yang dapat mengharapkan perlindungan Tuhan,” tambah Kim, dikutip dari DW.

Ia juga menjelaskan bahwa peluncur tersebut dirancang untuk misi strategis khusus yang biasanya merujuk pada penggunaan nuklir dan dimaksudkan sebagai alat pencegah terhadap musuh (yang dipahami sebagai Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat).

2. Analis soroti jangkauan roket 600 mm

ilustrasi peluncuran rudal (pexels.com/SpaceX)

Sistem roket 600 mm itu sebelumnya pernah dipertontonkan pada akhir 2022 dengan kendaraan berantai yang membawa enam roket per unit. Saat itu KCNA menyatakan sistem tersebut mampu menjangkau seluruh wilayah Korsel dan siap dipasangi hulu ledak nuklir taktis. Sejumlah analis memperkirakan Korut kini memiliki sekitar 50 hulu ledak nuklir serta bahan fisil untuk tambahan 30-40 hulu ledak.

Analis Korea Institute for National Unification, Hong Min, mengatakan kepada Agence France-Presse bahwa jarak tembak roket diperkirakan mencapai 400 kilometer atau 250 mil sehingga mencakup seluruh Semenanjung Korea dan diarahkan untuk melumpuhkan kekuatan udara gabungan Korsel dan AS.

“Jika dilengkapi dengan hulu ledak nuklir taktis, satu baterai yang menembakkan empat hingga lima roket dapat menghancurkan seluruh pangkalan udara,” tambahnya, dikutip dari Al Jazeera.

Sementara itu, Kepala Staf Gabungan Korsel menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan persenjataan Korut secara ketat. Seoul berjarak kurang dari 50 kilometer dari perbatasan di titik terdekat. Korut juga diketahui memiliki ribuan artileri konvensional yang dapat diarahkan ke pusat populasi utama Korsel. Laporan RAND Corporation pada 2020 menyebut hampir 6 ribu sistem artileri kaliber besar dalam jangkauan berpotensi menewaskan lebih dari 10 ribu orang dalam satu jam jika ditembakkan ke target sipil.

3. Kim tegaskan agenda pertahanan mandiri

Bendera Korea Utara (unsplash.com/Mike Bravo)

Kim menyampaikan bahwa kongres mendatang akan memaparkan rencana tahap berikutnya guna memperkuat pertahanan mandiri sekaligus mengumumkan fase lanjutan dari inisiatif tersebut. Ia meminta para pengembang senjata dan pekerja perakitan amunisi mempercepat pekerjaan mereka. Kongres itu diperkirakan menentukan arah kebijakan luar negeri, rencana perang, serta ambisi nuklir untuk lima tahun ke depan, sementara laporan media resmi tentang kedatangan delegasi mengindikasikan pertemuan besar tersebut akan segera berlangsung. Kim juga menegaskan forum itu akan mendorong proyek pembaruan berkelanjutan kemampuan militer untuk menaklukkan segala ancaman dan tantangan dari kekuatan luar.

Pameran persenjataan tersebut berlangsung ketika Korut memasok rudal dan ribuan tentaranya ke Rusia untuk mendukung invasi ke Ukraina, yang dinilai dapat memberi pengalaman tempur serta masukan teknis bagi penyempurnaan senjata dan taktik mereka. Di sisi lain, hubungan dengan Korsel tetap tegang di tengah keberadaan puluhan ribu tentara AS di wilayah tersebut. Pyongyang telah menghentikan hampir seluruh dialog dan kerja sama dengan Seoul sejak 2019 dan secara resmi menyatakan sistem dua negara yang saling bermusuhan di semenanjung.

Dalam laporan KCNA, saudara perempuan pemimpin Korut, Kim Yo Jong, mengakui adanya permintaan maaf dari seorang menteri Korsel terkait dugaan penerbangan drone sipil ke wilayah Korut pada September tahun lalu dan Januari tahun ini. Ia menyatakan Pyongyang memperketat pengamanan perbatasan terhadap musuh dan menilai lebih baik bagi Korsel mencegah pelanggaran lebih lanjut terhadap kedaulatan negaranya yang serius. Otoritas Korsel membantah telah mengoperasikan drone pada periode tersebut, namun sedang menyelidiki tiga warga sipil yang diduga meluncurkan drone dari kawasan perbatasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team