Ada jejaring pencuri bayi, bahkan terorganisir di Nairobi, Kenya. Ilustrasi (unsplash.com/Bill Wegener)
Tingkat kehamilan remaja di Kenya terbilang sangat tinggi. Banyak bayi yang dijual juga dari gadis-gadis muda yang hamil ketika masih sekolah. Sarah, salah seorang gadis yang pernah menjual bayinya mengatakan kepada BBC, “saat itu saya masih muda, saya tidak pernah mengira apa yang saya lakukan itu salah. Setelah lima tahun saya sadar dan ingin mengembalikan uangnya, tetapi hal itu tidak pernah bisa saya lakukan” (14/12). Bayi yang dibayar dari ibu yang melahirkan di Kenya dihargai antara 20 euro sampai 70 euro atau sekitar Rp 345 ribu hingga Rp 1,2 juta. Pembeli menjualnya lagi hingga 300 euro atau sekitar Rp 5,1 juta.
Selain agen jual beli bayi pasar gelap itu dilakoni oleh tempat klinik ilegal, ada juga kelompok pencuri bayi. Para pencuri bayi ini bisa terdiri dari oportunis yang rentan hingga penjahat yang terorganisir. Sering juga, dua elemen itu bekerja sama. Mereka mencuri bayi dari para tunawisma.
Anita, salah satu pemabuk dan pengguna narkoba yang tinggal di jalanan Nairobi, adalah salah satu kelompok oportunis yang rentan. Dia memiliki banyak teknik pencurian bayi yang berusia dibawah tiga tahun. Anita bekerja dengan seorang bos wanita lokal untuk mendapatkan keuntungan dari bayi yang dijual.
Reporter BBC yang menyamar, berusaha menjadi pembeli bayi potensial dengan menawar harga tinggi, sekitar 550 euro atau sekitar Rp. 9,4 juta. Anita kadang menjual bayi yang dicuri kepada bosnya sebesar 350 euro atau sekitar Rp. 6 juta.
Anak hilang di Kenya jarang dilaporkan. Isu ini tak pernah menyentuh permukaan. LSM yang didirikan Maryana Munyendo, yang mengurusi kasus kehilangan anak di Kenya mengatakan, selama empat tahun LSM beroperasi sudah menangani 600 kasus.
Ada kekuatan pendorong di balik pasar gelap bayi di Kenya, yakni persoalan infertilitas. “Kemandulan bukanlah hal yang baik bagi seorang wanita dalam pernikahan di Afrika. Kami diharapkan punya anak dan itu harus laki-laki. Jika tidak bisa akan diusir dari rumah. Jadi apa yang kami lakukan?” kata Munyendo (15/11).