Jakarta, IDN Times - Di kota kecil Playa Girón, sejarah terasa begitu dekat. Tidak banyak yang berubah di tempat ini. Air lautnya berwarna pirus, rumah-rumahnya rendah dan sederhana. Namun pada 1961, di muara Teluk Babi (Bay of Pigs), Playa Girón menjadi saksi salah satu kegagalan militer paling memalukan dalam sejarah Amerika Serikat.
Di sinilah invasi yang didukung Amerika Serikat (AS) untuk menggulingkan pemimpin revolusioner muda Kuba, Fidel Castro, berakhir dengan kekalahan telak. Hingga kini, jejak peristiwa itu masih tersimpan di Museum Girón.
Direktur museum, Dulce María Limonta del Pozo, menunjuk tank dan artileri yang digunakan pasukan Kuba untuk memukul mundur serangan tersebut.
“Rencananya adalah membentuk kepala pantai dan mendirikan pemerintahan transisi,” ujar Limonta del Pozo, dilansir dari BBC, Selasa (6/1/2026).
Lebih dari enam dekade kemudian, peristiwa itu kembali relevan. Serangan Presiden AS Donald Trump ke Venezuela dinilai menghidupkan kembali gagasan politik berusia hampir 200 tahun. Doktrin Monroe, keyakinan bahwa Belahan Barat berada dalam lingkup pengaruh eksklusif Amerika Serikat.
