Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lahir di Tengah Genosida Israel, Anak-anak Palestina Tanggung Luka Perang
Ilustrasi bayi baru lahir. (unsplash.com/Jonathan Borba)
  • Serangan udara Israel di Gaza menewaskan warga sipil dan petugas polisi, memperburuk krisis kemanusiaan yang telah menelan lebih dari 72 ribu korban jiwa sejak Oktober 2023.
  • Ribuan anak Gaza mengalami cacat permanen, kelumpuhan, dan kelainan bawaan akibat paparan gas beracun serta runtuhnya sistem kesehatan di tengah perang berkepanjangan.
  • Blokade Israel menghambat evakuasi medis bagi sekitar 4 ribu anak yang membutuhkan perawatan darurat, menyebabkan ratusan meninggal saat menunggu izin keluar dari Gaza.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Serangan udara Israel kembali menggempur wilayah Gaza utara dan selatan pada Rabu (6/5/2026). Insiden tersebut menewaskan setidaknya lima warga Palestina termasuk seorang petugas kepolisian. Serangan ini terjadi di tengah periode gencatan senjata yang masih berlangsung, memicu kecaman keras dari otoritas setempat.

Menurut sumber medis, serangan di lingkungan al-Daraj dan Zeitoun di Kota Gaza menargetkan kerumunan warga sipil. Di Zeitoun, 3 anggota keluarga tewas saat mencoba mendirikan tenda pengungsi di dekat Masjid Salah al-Din. Sementara itu, di Khan Younis, Gaza selatan, sebuah rudal menghantam kendaraan polisi yang melintasi area padat pengungsi di al-Mawasi.

Kementerian Dalam Negeri Gaza mengonfirmasi tewasnya seorang petugas. Pihaknya menyebut serangan ini sebagai upaya sengaja Israel untuk menciptakan kekacauan keamanan. Korban tewas akibat insiden tersebut menambah total lebih dari 72 ribu warga Palestina yang terbunuh dan lebih dari 172 ribu terluka akibat genosida Israel di Gaza sejak Oktober 2023, Anadolu Agency melaporkan.

Di balik angka kematian yang terus bertambah, krisis kemanusiaan di Gaza meninggalkan luka permanen bagi generasi termuda. Anak-anak yang lahir sejak pecahnya perang di Gaza menghadapi dampak kesehatan serius mulai dari kelumpuhan, kelainan bentuk, dan luka bakar parah.

1. Ribuan anak Gaza menghadapi paparan gas beracun, malnutrisi hingga runtuhnya sistem kesehatan

Warga Palestina dievakuasi akibat serangan udara, penembakan artileri, dan tembakan senjata api oleh pasukan Israel di Jalur Gaza. (x.com/WHO in occupied Palestinian territory)

Menurut data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Gaza, ribuan anak kini menghadapi cacat seumur hidup akibat serangan berkelanjutan, paparan gas beracun, luka bakar, malnutrisi, dan runtuhnya sistem layanan kesehatan. Salah satunya adalah Nour Abu Samaan, bayi perempuan yang lahir pada 7 Oktober 2023, hanya beberapa jam sebelum perang Israel-Hamas meletus. Kebahagian ibunya, Samar Hammad, berubah menjadi kepanikan sehari kemudian ketika serangan Israel mengguncang wilayah tempat tinggal mereka.

"Asap dan gas memenuhi udara. Anak saya tiba-tiba tersedak dalam pelukan saya," kata Samar kepada Al Jazeera Arabic.

Menurut keluarga, Nour mengalami kesulitan bernapas, kulit membiru, dan kehilangan kemampuan bergerak setelah terpapar asap dari serangan rudal Israel. Dokter kemudian mendiagnosisnya mengalami kelumpuhan motorik akibat menghirup gas beracun. Sejak usia dua hari, Nour harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit, dan menjadi salah satu dari banyak anak Gaza yang tumbuh di tengah perang dan krisis kemanusiaan.

2. Lonjakan kelainan bawaan dan krisis demografi

UNICEF mendistribusikan surfaktan, sebuah pengobatan paru-paru yang membantu bayi prematur bernafas, ke berbagai rumah sakit di seluruh Jalur Gaza. (x.com/UNICEFpalestine)

Zaher al-Waheidi, kepala unit informasi Kemenkes melaporkan bahwa sekitar 1.200 anak di Gaza kini menderita cedera tulang belakang dan kelumpuhan akibat serangan militer.

Kasus serupa dialami bayi yang masih dalam kandungan. Misk al-Jarou, bayi enam bulan yang lahir dengan kelainan bentuk fisik yang parah pada tangan dan kaki. Saudara kembarnya meninggal dalam kandungan. Ibunya, Warda al-Jarou, meyakini kondisi itu dipicu paparan gas beracun selama kehamilan.

Data otoritas kesehatan mencatat tren medis yang mengkhawatirkan pada tahun lalu. Cacat bawaan tercatat 322 kasus, naik dua kali lipat dibandingkan pada periode sebelum perang. Sementara, kelahiran prematur atau dengan berat badan rendah tercatat lebih dari 4 ribu kasus pada 2025.

Perang juga memicu krisis demografis di Gaza. Untuk pertama kalinya wilayah kantong tersebut melaporkan pertumbuhan penduduk menjadi negatif (minus 1,3 persen), dengan angka kelahiran anjlok hingga 38 persen.

Al-Waheidi menghubungkan epidemik kelainan ini dengan paparan jutaan ton proyektil dari serangan militer, kelaparan sistemik, dan hilangnya perawatan prenatal bagi ibu hamil.

3. Ribuan anak Gaza menunggu evakuasi medis di tengah blokade Israel

Potret anak Gaza yang sedang mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit. (x.com/WHO in occupied Palestinian territory)

Bagi anak-anak seperti Mohammed Abu Hajeela, yang menderita luka bakar tingkat tiga di 18 persen tubuhnya, kelangsungan hidup berarti penderitaan harian. Ia harus mengenakan masker kompresi selama 20 jam sehari untuk memulihkan jaringan kulitnya.

Mohammed adalah salah satu dari sekitar 1.000 anak di Gaza yang telah menjalani amputasi atau menderita luka parut permanen yang parah. Nour, Misk, Mohammed, dan ribuan anak lainnya kini bergantung pada evakuasi medis segera. Namun, blokade ketat Israel menjadi penghalang utama.

Sekitar 4 ribu anak membutuhkan perawatan darurat di luar negeri. Sementara, 20 ribu pasien secara keseluruhan masuk dalam daftar tunggu evakuasi. Hanya 154 anak yang diizinkan melintasi perbatasan Rafah sejak Februari 2025. Hingga saat ini, tercatat setidaknya 470 anak meninggal dunia saat mengantre untuk mendapatkan izin perawatan medis di luar Gaza.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team