Ilustrasi (IDN Times/Mardya Shakti)
Dalam survei yang dilakukan pada tanggal 9 hingga 31 Juli lalu itu, salah satu isi pertanyaan menyoroti tentang jenis pelecehan apa saja yang telah dialami partisipan ketika bersekolah. Berdasarkan hasil yang dirilis, sebanyak 24,8 persen mengatakan mereka pernah disentuh atau diraba-raba, 20,8 persen pernah dibuat untuk berpartisipasi dalam percakapan seksual atau diberitahu hal-hal tak senonoh, sementara 12,7 persen melaporkan telah menjadi sasaran tindakan seksual atau dibuat melakukannya, dan 12,7 persen sisanya mengatakan tubuh mereka pernah dilihat.
Mirisnya, hampir 80 persen dari mereka yang dianiaya secara seksual ketika masih anak-anak oleh gurunya tersebut mengatakan bahwa pada saat kejadian tersebut berlangsung, mereka tidak benar-benar menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Lalu, ketika ditanya kapan pada akhirnya mereka paham bahwa yang dialami itu adalah bentuk pelecehan seksual, sebanyak 22,6 persen menjawab "dalam 10 tahun",12,2 persen menjawab "dalam lima tahun", dan 10,4 persen mengakui baru sadar dalam "15 tahun setelahnya".
Hasil ini menunjukkan bahwa banyak orang yang dilecehkan ketika masih anak-anak cenderung berpikir pada saat itu jika 'perlakuan' yang diberikan oleh guru mereka hanyalah bagian dari sesuatu yang wajar tanpa ada maksud tertentu. Karenanya, sangat sedikit kasus semacam itu dilaporkan kepada orang dewasa lain, mengingat anak-anak jarang memiliki kecurigaan tertentu terhadap sosok yang dihormati khususnya seorang guru. Dan itulah mengapa mereka baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi justru ketika sudah dewasa.
Selain itu, fakta yang lebih mengejutkan yang diakui oleh sebanyak 63,4 persen suara mengungkapkan, bahwa pelecehan yang mereka alami sebenarnya telah disadari oleh guru-guru yang lain, namun pihak ketiga tersebut justru berpura-pura seperti tidak mengetahui apapun dan membiarkannya begitu saja.
Di antara 108 responden yang mengaku telah mendapatkan pelecehan berulang kali pun, hanya lima orang yang pernah melibatkan orangtua dan polisi, sementara lebih dari setengahnya justru terus mengalami kejahatan seksual dari gurunya hingga akhirnya lulus dan berhenti bertemu satu sama lain.
"Ada banyak kasus saat pihak ketiga berpaling, dan orang-orang (di sekitar korban) cenderung mengatakan hal-hal seperti, 'Guru itu tidak pernah bisa melakukan hal seperti itu,' atau, 'Kamu harus menyimpannya untuk dirimu sendiri.'" kata Ikuko Ishida, sosok yang merancang survei.