Bendera Mali. (Pixabay.com/OpenClipart-Vectors)
Melansir Associated Press, langkah Mali menghukum para tentara menambah ketegangan antara junta militer Mali dengan komunitas internasional. Pemimpin junta, Kolonel Assimi Goita, membuat negara itu semakin terisolasi sejak kudeta dua tahun lalu dan gagal memenuhi tenggat waktu internasional untuk menyelenggarakan pemilu demokratis.
Pemerintahan Goita telah menjalin kerja sama dengan tentara bayaran Rusia, Grup Wagner, untuk membantu memerangi teroris Al-Qaeda dan ISIS. Tentara bayaran itu berada Mali saat Prancis menarik pasukannya, karena bersitegang dengan pemerintah junta. Pasukan Prancis telah sembilan tahun beroperasi di Mali untuk melawan pemeberontak.
Mali juga berselisih dengan PBB karena tidak akan mengizinkan misi PBB untuk menyelidiki kemungkinan pelanggaran kemanusiaan di Mali, termasuk kasus kematian lebih dari 300 warga sipil.
Alexander Thurston, asisten profesor ilmu politik di Universitas Cincinnati, mengatakan bahwa tindakan Mali bermusuhan dengan tetangganya hanya akan mendapatkan sedikit keuntungan.
"Junta memperparah keterasingannya dan menambah kemungkinan bahwa (misi penjaga perdamaian PBB) akan runtuh," katanya.