Jakarta, IDN Times - Konflik antara Iran dan Israel menunjukkan pola eskalasi yang semakin jelas dan terhubung. Serangan terhadap fasilitas nuklir Iran di Natanz dan balasan terhadap wilayah Dimona di Israel dalam hari yang sama memperlihatkan dinamika baru dalam konflik kawasan.
Narasi yang kerap muncul dalam konflik ini juga kembali mengemuka, yakni klaim tindakan militer dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri. Dalam banyak pernyataan resmi, Israel menegaskan langkah militernya bukan pilihan, melainkan respons atas ancaman.
Namun, di tengah intensitas konflik yang meningkat, narasi tersebut menuai pertanyaan. Bagaimana sebuah negara dapat memulai atau memperluas operasi militer, namun tetap menyebutnya sebagai upaya bertahan?
Meski demikian, dalam diskursus politik Israel dan sebagian media Barat, kontradiksi tersebut jarang dipersoalkan secara mendalam. Narasi ini justru cenderung menjadi bagian yang dinormalisasi dalam pembahasan konflik.
