Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Militan dan Separatis Lancarkan Serangan Besar di Mali
tentara Mali (Magharebia, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
  • Kelompok JNIM dan separatis FLA melancarkan serangan besar di Bamako serta beberapa kota lain, menargetkan pangkalan militer dan bandara hingga menyebabkan ledakan hebat sejak pagi hari.
  • Militer Mali mengklaim menewaskan ratusan penyerang dan memberlakukan jam malam tiga hari, sementara bandara ditutup serta operasi penyisiran dilakukan untuk mengamankan wilayah yang terdampak.
  • Krisis keamanan Mali yang berlangsung lebih dari satu dekade makin parah akibat aliansi baru antara ekstremis Islam dan separatis Tuareg, menjadi ancaman serius bagi pemerintahan transisi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kelompok bersenjata melancarkan serangan terkoordinasi besar-besaran di ibu kota Mali, Bamako, dan beberapa wilayah lain pada Sabtu (25/4/2026). Aksi ini menyasar sejumlah titik vital, termasuk pangkalan militer dan fasilitas penerbangan.

Kelompok Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) yang berafiliasi dengan al-Qaeda mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka melancarkan operasi gabungan bersama kelompok separatis Front Pembebasan Azawad (FLA).

1. Ledakan dan tembakan guncang fasilitas militer serta bandara

ilustrasi tentara Mali (Magharebia, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Suara ledakan dan tembakan senapan otomatis mulai terdengar menjelang pukul 06.00 pagi waktu setempat di Kati dan area Bandara Internasional Modibo Keita. Fasilitas udara tersebut berbatasan langsung dengan pangkalan yang digunakan oleh angkatan udara Mali.

Kediaman Menteri Pertahanan Sadio Camara di Kati dilaporkan hancur terkena ledakan dahsyat. Presiden transisi Jenderal Assimi Goita juga diketahui bermukim di kawasan militer tersebut.

Baku tembak turut meletus di kota-kota wilayah utara dan tengah seperti Gao, Kidal, Sevare, dan Mopti. Pasukan separatis bahkan mengklaim telah menguasai sejumlah kawasan strategis di dalam kota Kidal.

"Kami telah merencanakan operasi ini sejak lama dengan cara yang sangat matang. Kami juga menjalin aliansi dengan JNIM dalam pelaksanaannya," ujar juru bicara FLA, Mohamed Elmaouloud Ramadane, dilansir BBC.

2. Militer Mali klaim tewaskan ratusan militan

bendera Mali (unsplash.com/ aboodi vesakaran)

Pihak berwenang menyatakan sebanyak 16 orang yang terdiri dari warga sipil dan personel militer mengalami luka-luka. Militer Mali mengklaim telah berhasil menewaskan ratusan penyerang, tetapi angka ini belum dapat diverifikasi.

Demi menjaga keamanan, pemerintah distrik Bamako menetapkan jam malam selama tiga hari dari pukul 21.00 hingga 06.00 pagi. Situasi darurat juga memicu penutupan bandara internasional dan pembatalan seluruh penerbangan.

Militer Mali menegaskan bahwa situasi keamanan saat ini secara umum sudah berada di bawah kendali aparat. Pasukan pemerintah sedang menggelar operasi penyisiran untuk memburu sisa-sisa anggota kelompok bersenjata.

"Sangat mengkhawatirkan melihat JNIM mengoordinasikan serangan hari ini dengan pemberontak Tuareg. Kelompok jihadis dan Tuareg pernah bekerja sama pada 2012 ketika mereka menguasai wilayah utara Mali," tutur Kepala Program Sahel Konrad Adenauer Foundation, Ulf Laessing, dilansir The Guardian.

3. Mali alami krisis keamanan selama lebih dari satu dekade

ilustrasi kelompok bersenjata. (unsplash.com/Randy Fath)

Mali telah menghadapi krisis keamanan dan pemberontakan bersenjata yang mematikan selama lebih dari satu dekade. Junta militer belum mampu menstabilkan negara meski telah berkuasa melalui dua kali kudeta.

Kerja sama terbaru antara ekstremis Islam dan separatis Tuareg ini menjadi ancaman serius bagi kelangsungan pemerintahan transisi. Insiden terbaru disebut sebagai salah satu serangan paling besar dalam beberapa tahun terakhir.

Pemimpin militer sebelumnya memutuskan untuk mengakhiri kerja sama keamanan dengan Prancis dan PBB. Pemerintah kemudian memilih menggunakan jasa tentara bayaran Rusia untuk memadamkan pemberontakan di negaranya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team