Vladimir Putin di Pyongyang dalam kunjungan kenegaraan atas undangan Kim Jong-un. (Presidential Executive Office of Russia, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Ursa Major dioperasikan Oboronlogistika, perusahaan milik Kementerian Pertahanan Rusia yang telah masuk daftar sanksi AS dan Inggris sejak 2022. Perusahaan itu juga diketahui memperoleh lisensi pengangkutan material nuklir beberapa waktu sebelum kapal tenggelam.
Insiden tersebut terjadi setelah pemimpin Korut, Kim Jong-un, mengirim 10 ribu tentara untuk membantu Rusia dalam perang di Ukraina. Sebagai balasan, Kim secara terbuka mengincar teknologi kapal selam bertenaga nuklir dari Moskow.
Intelijen Korea Selatan juga melaporkan Rusia telah memasok sedikitnya satu reaktor ke Pyongyang pada 2025. Laporan surat kabar La Verdad yang diperiksa CNN kemudian memunculkan dugaan sabotase militer Barat sebagai penyebab karamnya kapal.
Penyidik menemukan lubang berukuran 50 sentimeter x 50 sentimeter pada lambung kapal dengan pola kerusakan mengarah ke dalam. Bentuk kerusakan itu disebut menyerupai dampak torpedo supercavitating, senjata berkecepatan tinggi yang dimiliki sejumlah negara seperti AS, Rusia, dan Iran.
Rusia menyebut insiden tersebut sebagai “serangan teroris yang ditargetkan”. Di sisi lain, penyidik Spanyol terus menelusuri dugaan adanya upaya untuk memutus transfer teknologi nuklir menuju Korut.