Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Netanyahu Ngaku Diam-diam Kunjungi UEA di Tengah Perang dengan Iran
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (DedaSasha, CC BY-SA 4.0 , via Wikimedia Commons)
  • Benjamin Netanyahu diam-diam mengunjungi UEA di tengah perang dengan Iran, bertemu Sheikh Mohammed bin Zayed dan membahas koordinasi militer bersama Mossad.
  • Pemerintah UEA membantah klaim kunjungan rahasia itu, menegaskan hubungan dengan Israel bersifat terbuka dalam kerangka Abraham Accords, sementara Iran mengecam kolusi tersebut.
  • Israel kirim sistem pertahanan Iron Dome ke UEA untuk hadapi serangan Iran, sementara gencatan senjata AS-Iran masih rapuh dan belum capai kesepakatan damai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengaku diam-diam mengunjungi Uni Emirat Arab (UEA)di tengah berlangsungnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran.

“Kunjungan tersebut telah menghasilkan terobosan bersejarah dalam hubungan antara Israel dan UEA,” kata kantor perdana menteri Israel pada Rabu (13/5/2026), dikutip dari The Guardian.

Laporan menyebutkan bahwa Netanyahu bertemu dengan Presiden UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed, di Al Ain, kota oasis dekat perbatasan dengan Oman, pada 26 Maret 2026. Pertemuan itu berlangsung selama beberapa jam.

Seorang pejabat mengatakan bahwa direktur intelijen Israel Mossad, David Barnea, juga telah dua kali mengunjungi UEA selama perang dengan Iran untuk mengoordinasikan aksi militer.

1. Iran kecam tindakan kerja sama dengan Israel

bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh Kementerian Luar Negeri UEA. Pihaknya menyatakan bahwa laporan mengenai kunjungan rahasia itu sepenuhnya tidak berdasar.

“UEA menegaskan kembali bahwa hubungannya dengan Israel bersifat terbuka dan dijalankan dalam kerangka Abraham Accords yang telah dikenal luas serta diumumkan secara resmi, dan tidak didasarkan pada pengaturan yang tidak transparan atau tidak resmi," kata kementerian.

Abraham Accords merupakan serangkaian perjanjian yang menormalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab pada masa jabatan pertama Presiden AS, Donald Trump. UEA menjadi negara mayoritas Muslim pertama yang menandatangani perjanjian tersebut pada 2020, disusul Bahrain, Maroko dan Sudan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa pengumuman Netanyahu tersebut membuktikan apa yang sejak lama telah dilaporkan oleh badan keamanan Iran. Ia menegaskan bahwa kolusi dengan Israel merupakan tindakan yang tidak dapat dimaafkan dan siapa pun yang melakukannya akan menghadapi konsekuensi.

2. Israel berikan bantuan sistem pertahanan udaranya kepada UEA

bendera Uni Emirat Arab (unsplash.com/Saj Shafique)

Teheran telah menyerang sejumlah sasaran di UEA, yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, sejak Washington dan Israel mulai menyerang Iran pada akhir Februari 2026. Negara itu juga telah berulang kali mengkritik UEA karena dianggap memiliki hubungan dekat dengan AS dan Israel.

Pada Selasa (12/5/2026), duta besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengungkapkan bahwa Israel telah mengirimkan baterai antirudal dari sistem pertahanan udara Iron Dome untuk membantu UEA menghadapi serangan dari Iran. Ia menyebut bantuan tersebut merupakan hasil dari hubungan luar biasa antara UEA dan Israel.

Sehari sebelumnya, Wall Street Journal (WSJ) juga melaporkan bahwa UEA secara diam-diam melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk serangan ke kilang minyak di Pulau Lavan pada awal April lalu. Tindakan itu disebut dilakukan sebagai balasan atas serangan Iran terhadap fasilitas minyak UEA.

Dilansir BBC, penasihat presiden UEA, Anwar Gargash, mengatakan bahwa negaranya berkomitmen pada diplomasi, tetapi tetap memiliki hak untuk membela diri. Ia menegaskan bahwa hubungan Arab-Iran di kawasan Teluk tidak dapat dibangun di atas konfrontasi dan konflik.

3. Iran dan AS masih belum menemui titik temu

dampak serangan terhadap Sekolah Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Iran (Mehr News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Gencatan senjata antara AS dan Iran telah berlangsung selama sekitar 1 bulan. Meski demikian, Iran masih memblokir Selat Hormuz, sementara AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menekan Teheran supaya menyetujui persyaratannya.

Pada Minggu (10/5/2026), Iran menyampaikan tuntutannya untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz melalui proposal balasan yang dikirim kepada AS. Namun, Trump menolak tuntutan tersebut, dengan menyebutnya sampah dan tidak dapat diterima. Ia juga mengatakan bahwa gencatan senjata kini dalam kondisi kritis.

Menanggapi respons tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran siap menghadapi segala bentuk agresi yang akan datang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team