Melansir dari laporan pusat penelitian tersebut, bayi paus pembunuh yang lahir dan terlihat pertama kali di selat Juan de fuca, wilayah perairan AS, berada dalam kondisi yang tampak sehat serta dewasa sebelum waktunya. Dengan lincah, ia digambarkan berenang penuh semangat bersama induknya. Para peneliti lalu menetapkan Jum'at lalu (4 September, 2020) sebagai hari kelahirannya. Hal itu berdasarkan dari bentuk sirip punggungnya yang tegak, sementara bayi paus biasanya membutuhkan waktu satu hingga dua hari untuk meluruskan sirip setelah terus membungkuk di dalam rahim.
Mengutip dari The Guardian, kehamilan Tahlequah pertama kali dilaporkan beberapa minggu lalu oleh kelompok konservasi nirlaba Sealife Response, Rehabilitation, and Research, yang juga dikenal sebagai SR3. Peneliti Dr. Holly Fearnbach telah memimpin upaya untuk memantau para paus pembunuh di wilayah Pacific Northwest dari atas melalui kamera drone dan mampu menyimpulkan sejumlah kehamilan paus, yang salah satunya adalah Tahlequah, dengan cara membandingkan foto udara mereka dari waktu ke waktu.
Ketika bertemu dengan paus beserta anaknya, para peneliti menerangkan bahwa sifat Tahlequah yang tidak ingin didekati dan memilih terpisah dari kawanan membuat mereka hanya dapat melihat selama beberapa menit saja saat paus itu melintasi perbatasan di Kanada.