Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 25 ribu siswa tidak masuk sekolah setelah puluhan sekolah swasta di Yerusalem Timur menghentikan kegiatan belajar mengajar. Langkah ini diambil sebagai bentuk protess atas keputusan Israel yang membatasi jumlah hari pemberian izin kerja bagi para guru dari Tepi Barat yang diduduki.
Aksi mogok tersebut diserukan oleh Sekretariat Jenderal Lembaga Pendidikan Kristen di Yerusalem dan kemudian diikuti oleh seluruh sekolah swasta di Yerusalem Timur. Mustafa Barghouti, sekretaris jenderal partai Inisiatif Nasional Palestina, pada Rabu (14/1/2026), mengatakan bahwa 13 sekolah Kristen ikut ambil bagian dalam aksi mogok tersebut, sementara sekolah-sekolah lainnya menyusul.
"Alasannya lebih dalam dari sekadar masalah guru. Ini mencerminkan kekecewaan terhadap peraturan ilegal yang diberlakukan Israel," tulisnya di platform media sosial.
