ilustrasi kericuhan saat demo (pexels.com/mermoz lionel)
Aksi demonstrasi bermula dari mogok kerja para pemilik toko di Teheran sebagai respons atas lonjakan biaya hidup dan merosotnya nilai tukar mata uang. Dari situ, protes dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah dan berubah menjadi penolakan terbuka terhadap kekuasaan klerikal, khususnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dengan teriakan slogan “Mati untuk sang diktator” serta “Seyyed Ali [Khamenei] akan digulingkan tahun ini”.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika demonstrasi meningkat tajam dan dihadapi dengan kekerasan mematikan oleh aparat keamanan. Kondisi tersebut juga disertai pemadaman internet serta layanan komunikasi yang nyaris total di seluruh negeri.
Di tengah situasi itu, Ketua Peradilan Iran Gholam-Hossein Mohseni-Ejei secara terbuka mendorong agar proses persidangan dan penjatuhan hukuman terhadap para perusuh yang telah ditangkap dipercepat.
“Elemen-elemen yang memenggal orang di jalanan atau membakar orang hidup-hidup harus diadili dan dihukum secepat mungkin,” kata Mohseni-Ejei dalam sebuah rekaman video, dikutip dari BBC.
Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS melaporkan sedikitnya 2.435 pengunjuk rasa tewas sejak kerusuhan dimulai, termasuk 13 anak dan 153 orang yang berafiliasi dengan pasukan keamanan atau pemerintah, serta mencatat 18.470 orang lainnya telah ditangkap.
Sejumlah kelompok hak asasi manusia menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait kemungkinan pembentukan pengadilan lapangan dan penggunaan hukuman mati untuk membungkam protes.