Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bendera Jepang sedang berkibar.
potret bendera Jepang (unsplash.com/HAYASHI KANNA)

Intinya sih...

  • Popularitas Takaichi taruhan politik. Keputusan Sanae Takaichi menggelar pemilu kilat diambil di tengah meningkatnya popularitas pribadi sang perdana menteri.

  • Pengamat menilai Takaichi berhasil menarik dukungan pemilih dengan menjanjikan pemotongan pajak dan pemberian subsidi.

  • ‘Iron Lady’ Jepang dan fenomena Sanae-mania. Sanae Takaichi dikenal sebagai pengagum mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dan sejak lama bercita-cita menjadi ‘Iron Lady’ versi Jepang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Jutaan warga Jepang memberikan suara mereka dalam pemilihan umum kilat yang digelar pada Minggu (8/2/2026). Pemilu hari ini berlangsung menyusul keputusan Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk membubarkan parlemen dan meminta mandat langsung dari publik.

Pemilu ini digelar hanya beberapa bulan setelah Takaichi terpilih sebagai perdana menteri melalui pemungutan suara di parlemen. Keputusan menggelar pemilu lebih awal dinilai sebagai langkah politik berani untuk memperkuat legitimasi pemerintahannya.

Hasil jajak pendapat menunjukkan koalisi Partai Demokrat Liberal (LDP) yang dipimpin Takaichi bersama Partai Inovasi Jepang berpeluang meraih hingga 300 dari total 465 kursi di Majelis Rendah.

Jika prediksi ini terwujud, hasil tersebut akan menandai kebangkitan LDP setelah kehilangan kendali atas kedua kamar parlemen Jepang pada pemilu tahun lalu.

1. Popularitas Takaichi taruhan politik

Sanae Takaichi (commons.wikimedia.org/ 内閣広報室 /Cabinet Public Affairs Office

Keputusan Sanae Takaichi menggelar pemilu kilat diambil di tengah meningkatnya popularitas pribadi sang perdana menteri, yang dinilai mampu mengangkat kembali elektabilitas LDP. Pengamat menilai, Takaichi berhasil menarik dukungan pemilih dengan menjanjikan pemotongan pajak dan pemberian subsidi, meskipun kebijakan tersebut menuai kritik karena berpotensi membebani ekonomi Jepang yang sedang lesu.

Hingga sepekan sebelum hari pemungutan suara, sekitar 4,6 juta warga telah memberikan suara lebih awal. Angka ini turun 2,5 persen dibandingkan pemilu 2024, yang sebagian disebabkan cuaca ekstrem berupa salju lebat di wilayah utara dan barat Jepang.

Meski demikian, pengamat menyebut daya tarik personal Takaichi dapat menjadi faktor penentu dalam meningkatkan perolehan suara koalisi pemerintah.

2. ‘Iron Lady’ Jepang dan fenomena Sanae-mania

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. (x.com/kantei)

Sanae Takaichi dikenal sebagai pengagum mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dan sejak lama bercita-cita menjadi ‘Iron Lady’ versi Jepang. Sekutu dekat mendiang mantan Perdana Menteri Shinzo Abe ini mengusung pandangan serupa, termasuk kebijakan pertahanan yang kuat dan pendekatan nasionalis.

Meski memiliki pandangan tradisional soal keluarga dan peran gender, jajak pendapat menunjukkan Takaichi justru populer di kalangan pemilih muda berusia 18 hingga 30 tahun. Tingkat persetujuan terhadap pemerintahannya sebagian besar bertahan di atas 70 persen sejak ia menjabat pada Oktober lalu.

Dukungan publik juga tercermin di media sosial. Akun Takaichi di platform X memiliki sekitar 2,6 juta pengikut, sementara video kampanye LDP yang ia bintangi ditonton lebih dari 100 juta kali dalam waktu kurang dari 10 hari. Fenomena ini memunculkan istilah ‘sanakatsu’ atau ‘Sanae-mania’ termasuk viralnya tas dan pena yang kerap ia gunakan.

3. Tantangan kebijakan luar negeri

potret bendera Jepang dan China (pexels.com/Lara Jameson)

Meski antusiasme publik terlihat tinggi, sejumlah pengamat meragukan apakah popularitas Takaichi akan sepenuhnya terkonversi menjadi suara bagi LDP.

“Ini bukan pemilihan presiden, melainkan pemilu parlemen, di mana kandidat LDP sebagian besar adalah pria yang tercemar skandal masa lalu,” kata profesor ilmu politik Universitas Sophia, Koichi Nakano, dilansir BBC.

Sejak 2023, LDP terseret skandal penggalangan dana yang berujung pada pengunduran diri empat menteri kabinet serta penyelidikan korupsi, memperlemah citra partai di mata publik.

Di sisi lain, oposisi kini lebih solid. Mantan mitra koalisi LDP, Komeito, telah bergabung dengan Partai Demokrat Konstitusional Jepang untuk membentuk blok oposisi terbesar di Majelis Rendah.

Dalam kebijakan luar negeri, Takaichi juga menghadapi kritik. Nakano menilai ia telah menggali lubang yang dalam dalam kebijakan luar negeri dan keamanan dengan memusuhi China. Ketegangan dengan Beijing meningkat setelah Takaichi menyatakan Jepang dapat mengerahkan Pasukan Bela Diri jika China menyerang Taiwan, memicu kemerosotan hubungan bilateral ke titik terendah dalam lebih dari satu dekade.

Editorial Team