Jakarta, IDN Times - Menjelang pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada Desember mendatang, situasi politik Myanmar dinilai semakin tidak menentu. Pemilu yang digagas junta militer disebut tidak akan mencerminkan kondisi politik nasional, karena hanya digelar di wilayah yang mereka kuasai.
Phar Kim Beng, Professor of ASEAN Studies di International Islamic University of Malaysia, menyebut pemilu itu ‘mustahil dianggap representatif’ karena pemerintah militer hanya menguasai sekitar 30 persen wilayah Myanmar.
“Artinya, 70 persen geografi Myanmar tidak akan ikut serta,” ujar Kim Beng dalam sesi ‘Navigating a World in Turbulent Transition: What’s ASEAN Response? What Can ASEAN Offer?’ di acara CIFP 2025, Sabtu (29/11/2025).
“Jadi bagaimana sebuah hasil pemilu bisa dianggap sah jika ia hanya mencakup sebagian kecil negara?” katanya.
Ia memperingatkan, hasil pemilu berisiko memperdalam fragmentasi, bukan meredam konflik. Pertempuran antara junta dan kelompok etnis bersenjata terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir, sementara struktur administrasi negara semakin melemah.
Kondisi ini membuat pemilu dipandang sebagai upaya legitimasi simbolik untuk junta, bukan jalan menuju normalisasi politik. Di sisi lain, ASEAN masih berjuang menetapkan strategi yang benar-benar disepakati bersama untuk menangani krisis yang telah berlangsung hampir empat tahun di negara itu.
