Jakarta, IDN Times - Pemilihan umum Thailand akan digelar pada Minggu, (8/2/2026), menjadi ujian penting bagi kekuatan politik dinasti Shinawatra yang selama lebih dari dua dekade mendominasi lanskap politik negara tersebut. Pemilu kali ini berlangsung di tengah pelemahan ekonomi, perubahan generasi pemilih, serta menurunnya posisi Partai Pheu Thai dalam berbagai jajak pendapat.
Partai Pheu Thai, kendaraan politik keluarga Shinawatra, kini berada di posisi ketiga dalam survei opini publik, sebuah situasi yang hampir tak terpikirkan pada masa kejayaan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra pada awal 2000-an. Para analis menilai pemilu ini akan menguji apakah nama besar Shinawatra masih memiliki daya tarik elektoral di Thailand masa kini.
Menurut para pengamat politik, keberhasilan Thaksin di masa lalu didorong oleh kebijakan populis yang secara signifikan meningkatkan kesejahteraan kelas pekerja dan masyarakat pedesaan. Namun, dinamika politik yang berubah, ditambah krisis internal dan keputusan strategis partai, dinilai telah mengikis dominasi tersebut.
Pemilu kali ini juga berlangsung ketika figur-figur utama keluarga Shinawatra berada di posisi sulit: Thaksin masih menjalani hukuman penjara, Yingluck Shinawatra masih hidup di pengasingan, dan Paetongtarn Shinawatra telah dicopot dari jabatan perdana menteri tahun lalu akibat pelanggaran etika.
