Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni (governo.it, CC BY 3.0 IT <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0/it/deed.en>, via Wikimedia Commons)
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni (governo.it, CC BY 3.0 IT <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0/it/deed.en>, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Meloni dorong para korban lainnya untuk melapor.

  • Fenomena ini berakar dari budaya patriarki.

  • Phica telah beroperasi selama 20 tahun.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, mengungkapkan kemarahannya setelah foto-foto rekayasa dirinya dan sejumlah perempuan lainnya muncul di sebuah situs dewasa pada Jumat (29/8/2025).

Selain Meloni, foto saudarinya, Arianna, dan pemimpin oposisi Elly Schlein juga muncul di platform Phica (plesetan dari istilah slang Italia “figa” yang berarti vagina), yang memiliki lebih dari 700 ribu pelanggan sebelum ditutup pada Kamis (28/8/2025). Foto-foto tersebut, yang disertai keterangan vulgar dan seksis, diambil tanpa izin dari akun media sosial pribadi atau sumber publik, lalu diedit sedemikian rupa untuk menonjolkan atau mengeksploitasi bagian tubuh secara seksual.

“Saya muak dengan apa yang terjadi, dan saya ingin menyampaikan solidaritas serta dukungan saya kepada semua perempuan yang telah dihina, dilecehkan, dan dilanggar kehormatannya oleh para pengelola forum ini maupun para penggunanya,” kata Meloni kepada surat kabar Italia Corriere della Sera.

1. Meloni dorong para korban lainnya untuk melapor

Perdana menteri perempuan pertama di Italia itu menyerukan agar para pelaku segera diidentifikasi dan dihukum semaksimal mungkin.

“Konten yang dianggap tidak berbahaya, jika berada di tangan yang salah, bisa menjadi senjata yang mengerikan. Dan kita semua harus mewaspadai hal ini," katanya, seraya mendorong para perempuan yang menjadi korban untuk segera melapor.

Dilansir dari CNN, Meloni dikenal vokal dalam isu-isu terkait perempuan, termasuk pornografi deepfake dan kekerasan dalam rumah tangga. Pada 2024, ia menggugat seorang ayah dan anak yang dituduh membuat video deepfake dirinya, dan menuntut ganti rugi sebesar 108.200 dolar AS (sekitar Rp1,7 miliar). Proses hukum masih bergulir, dengan sidang berikutnya dijadwalkan digelar pada September.

Saat itu, pengacara Meloni, Maria Giulia Marongiu, mengatakan bahwa sang perdana menteri berharap dapat menjadi contoh bagi korban revenge porn dan deepfake porn lainnya untuk berani bersuara melawan pihak-pihak yang mencemarkan nama baik mereka.

2. Fenomena ini berakar dari budaya patriarki

Schlein, yang fotonya juga muncul di situs Phica, menyatakan bahwa unggahan-unggahan tersebut merupakan bagian dari budaya pemerkosaan, yang tidak hanya dinormalisasi dan dibenarkan di dunia maya, tetapi juga didorong dengan menyediakan wadah khusus untuk melampiaskan dorongan terburuk manusia.

Sementara itu, Valeria Campagna, anggota terkemuka Partai Demokrat (PD) di wilayah Lazio, mengaku marah dan jijik setelah mengetahui fotonya juga dimuat di situs tersebut. Namun, ia tidak terkejut. Menurutnya, fenomena sistemik ini berakar pada budaya patriarki yang memandang perempuan sebagai objek yang dapat dimiliki, dikendalikan, dan dikuasai.

"Selain mendorong edukasi bagi anak muda tentang rasa hormat dan persetujuan, kami meminta mereka, khususnya laki-laki, untuk mengambil tindakan sederhana, dimulai dari keluarga dan teman sendiri, serta dari lingkungan sosial maupun pekerjaan mereka. Bukan hanya dengan tidak mengulang sikap-sikap tersebut, tetapi juga berani bersuara ketika mendengar komentar atau ‘candaan’ seksis,” ujar Campagna.

3. Phica telah beroperasi selama 20 tahun

Menurut The Post, Phica telah beroperasi sejak 2005 dan tetap aktif meski banyak laporan telah diajukan ke polisi. Situs ini dilaporkan mengadakan praktik “cum tributes”, di mana para pria membagikan bukti masturbasi dengan menggunakan foto istri atau pacar pengguna lain sebagai objek seksual mereka.

Salah satu korban, Mary Galati Mary Galati, menggambarkan Phica sebagai neraka. Ia mengatakan bahwa dirinya pertama kali mengetahui fotonya ada di situs tersebut pada 2023. Ia harus menggunakan dokumen identitas ayahnya untuk mendaftar karena situs tersebut hanya menerima pengguna laki-laki.

"Suami-suami membagikan foto istri mereka, pria-pria mengekspos pasangan atau kerabatnya, bahkan ada ayah yang mengunggah foto putri mereka yang masih sangat kecil — berusia empat atau lima tahun — untuk diseksualisasi," ungkapnya.

Dilansir dari France24, Menteri Kesetaraan Prancis, Eugenia Roccella, mengatakan pemerintah sedang mengupayakan reformasi budaya, sementara para aktivis hak-hak perempuan mengumumkan rencana untuk mengajukan gugatan class action.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team