Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bendera Korea Selatan (unsplash.com/Paran Koo)
Bendera Korea Selatan (unsplash.com/Paran Koo)

Intinya sih...

  • Investigasi telusuri dukungan logistik intelijen dalam misi drone ke Korut

  • Pemerintah Seoul menemukan indikasi koordinasi intensif antara oknum keamanan dan kelompok sipil yang mengaku bertanggung jawab.

  • Dugaan keterlibatan lembaga negara dapat mengancam stabilitas regional dan keamanan nasional.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kepolisian Korea Selatan (Korsel) melaksanakan penggeledahan di kantor Badan Intelijen Negara pada Selasa (10/2/2026), guna mengusut insiden penerbangan drone ke wilayah Korea Utara (Korut). Operasi ini menandai dimulainya investigasi mendalam terhadap potensi keterlibatan aparatur negara, di tengah situasi konflik perbatasan yang kian memanas.

Penyelidikan tersebut difokuskan untuk menanggapi tuduhan serius mengenai pelanggaran ruang udara yang terjadi di wilayah Kaesong pada awal tahun ini.

Melalui langkah hukum ini, pemerintah berupaya memastikan bahwa seluruh institusi negara tetap mematuhi protokol keamanan nasional yang berlaku. Upaya ini dilakukan demi menjaga stabilitas kawasan dan mencegah terjadinya tindakan provokasi yang tidak terkoordinasi.

1. Investigasi telusuri dukungan logistik intelijen dalam misi drone ke Korut

Tim investigasi gabungan kini sedang meneliti adanya potensi otorisasi rahasia atau dukungan logistik dari pejabat intelijen, guna memfasilitasi misi drone sipil ke wilayah Korea Utara. Penyelidikan tersebut difokuskan untuk menentukan apakah aksi tersebut merupakan bagian dari operasi terstruktur, yang melanggar hukum kedaulatan antar negara.

"Satuan tugas akan mengungkap kebenaran di balik insiden drone ini melalui analisis material yang disita dan penyelidikan ketat terhadap para tersangka," menurut tim investigasi dalam rilis resminya, dilansir TRT World.

Meskipun awalnya membantah keterlibatan resmi, pemerintah Seoul kini menemukan indikasi koordinasi intensif antara oknum keamanan dan kelompok sipil yang mengaku bertanggung jawab. Presiden Lee Jae-myung memperingatkan bahwa setiap keterlibatan lembaga negara dalam aksi tersebut merupakan pelanggaran hukum berat, yang dapat mengancam stabilitas regional.

"Jika dugaan itu terbukti benar, hal itu akan menjadi kejahatan serius yang mengancam perdamaian di Semenanjung Korea dan keamanan nasional," ujar Lee, dilansir The Standard.

2. Tim gabungan geledah 18 lokasi terkait investigasi insiden drone Kaesong

Satuan tugas gabungan militer dan kepolisian menggeledah 18 lokasi penting secara serentak, termasuk markas besar Badan Intelijen Nasional (NIS) dan Komando Intelijen Pertahanan. Operasi yang dimulai pada pukul 09.00 waktu setempat ini, juga menyasar kantor perusahaan teknologi serta kediaman pribadi para tersangka utama. Langkah hukum tersebut diambil setelah Korea Utara merilis bukti puing drone, yang diklaim jatuh di wilayah Kaesong pada 4 Januari 2026.

Penyelidik kini telah mengamankan sejumlah perangkat keras dan dokumen rahasia, guna memverifikasi keaslian rekaman video yang ditemukan dalam memori drone tersebut. Bukti-bukti ini sangat diperlukan untuk memastikan apakah drone tersebut memang digunakan untuk memantau target militer strategis, seperti fasilitas uranium. Pihak berwenang berharap hasil analisis forensik digital dapat segera mengungkap pihak yang memberikan instruksi akhir bagi peluncuran pesawat tanpa awak tersebut.

3. Empat tersangka pejabat dan militer ditetapkan dalam kasus drone ilegal ke Korea Utara

Investigasi saat ini telah menetapkan empat tersangka dari pihak pemerintah, yang terdiri dari satu pejabat NIS serta tiga perwira militer aktif. Para tersangka diduga berkolaborasi dengan seorang mahasiswa pascasarjana bernama Oh, yang menggunakan perusahaan media sebagai kedok untuk menutupi aktivitas intelijen tidak sah. Selain itu, pihak kejaksaan menemukan indikasi transaksi keuangan mencurigakan senilai ratusan juta won, yang diduga digunakan untuk mendanai operasional misi ilegal tersebut.

Dalam pembelaannya, tersangka Oh menyatakan bahwa misi tersebut murni bertujuan untuk melakukan pemantauan lingkungan di wilayah pemrosesan nuklir Korea Utara.

"Saya menerbangkan drone tersebut untuk mengukur tingkat radiasi dan kontaminasi logam berat di sekitar pabrik pengolahan uranium di sana," kata Oh, dilansir BSS News.

Saat ini, para tersangka menghadapi ancaman dakwaan pengkhianatan, serta pelanggaran berat terhadap protokol militer dan Undang-Undang Keselamatan Penerbangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team