Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Populasi Anak Jepang Capai Rekor Terendah dalam 45 Tahun Berturut-turut
Ilustrasi anak-anak. (unsplash.com/note thanun)
  • Populasi anak di Jepang turun ke rekor terendah 13,29 juta jiwa per April 2026, menandai penurunan selama 45 tahun berturut-turut dan hanya mencakup 10,8 persen dari total penduduk.
  • Pemerintah Jepang meningkatkan kebijakan dukungan keluarga untuk membalikkan tren kelahiran, namun proporsi anak tetap menjadi yang terendah kedua di dunia setelah Korea Selatan.
  • Krisis demografi diperparah oleh kecemasan ekonomi dan biaya hidup tinggi yang membuat banyak warga menunda atau enggan menikah serta memiliki anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jepang melaporkan penurunan populasi anak di bawah usia 15 tahun selama 45 tahun berturut-turut, mencapai rekor terendah baru sebanyak 13,29 juta jiwa per 1 April 2026. Angka tersebut menyusut sekitar 350 ribu jiwa dibandingkan tahun sebelumnya.

Data dari Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi yang dirilis pada Senin (4//2026), menjelang libur Hari Anak Nasional ini mempertegas krisis demografi di Jepang, dilansir NHK News.

1. Angka kelahiran turun, populasi anak Jepang kian menyusut

Ilustrasi anak-anak. (unsplash.com/Andrew De Leon)

Anak-anak kini hanya mencakup 10,8 persen dari total populasi Jepang. Angka tersebut turun 0,3 poin persentase dari tahun lalu dan menjadi level terendah sejak pencatatan modern dimulai pada 1950. Rasio anak-anak juga terus menurun selama 52 tahun berturut-turut, sejak 1975.

Berdasarkan gender, terdapat 6,81 juta anak laki-laki dan 6,48 juta anak perempuan. Data juga menunjukkan tren penurunan kelahiran yang berkelanjutan, dengan jumlah anak semakin kecil pada kelompok usia yang lebih muda. Kelompok usia 12-14 tahun berjumlah 3,09 juta jiwa, usia 9-11 tahun berjumlah 2,96 juta jiwa, usia 6-8 tahun berjumlah 2,68 juta jiwa, usia 3-5 tahun berjumlah 2,43 juta jiwa, sementara kelompok usia 0-2 tahun hanya berjumlah 2,13 juta jiwa, dikutip dari Nippon.com.

Angka-angka tersebut, termasuk penduduk asing, dihitung menggunakan perkiraan populasi yang didasarkan pada sensus nasional yang dilakukan setiap lima tahun sekali.

2. Proporsi anak di Jepang terendah kedua secara global

Ilustrasi anak-anak. (pexels.com/Pragyan Bezbaruah)

Penurunan ini terjadi meskipun pemerintah telah meningkatkan berbagai kebijakan untuk mendorong angka kelahiran, termasuk dukungan finansial bagi rumah tangga yang membesarkan anak. Jepang menetapkan periode hingga 2030 sebagai kesempatan terakhir untuk membalikkan tren demografis ini.

Sebagai perbandingan, populasi anak di Jepang pernah mencapi puncaknya pada 1954 dengan 29,89 juta jiwa. Namun, jumlahnya menurun sejak 1982.

Secara global, Jepang memiliki proporsi anak terendah kedua di antara negara dengan populasi di atas 40 juta jiwa. Peringkat tersebut setelah Korea Selatan dengan 10,2 persen, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa.

3. Kecemasan ekonomi berdampak pada menurunnya angka pernikahan dan kelahiran

Panorama kota Tokyo, Jepang. (Unsplash.com/Jaison Lin)

Merosotnya angka kelahiran juga mencerminkan tantangan besar bagi masa depan ekonomi Jepang, di tengah beban populasi lanjut usia yang terus meningkat. Saat ini, Negeri Sakura sedang menghadapi populasi yang menua dengan cepat dan meningkatnya kekhawatiran tentang pengasuhan anak karena biaya hidup yang lebih tinggi di tengah inflasi.

"Selain kecemasan ekonomi, semakin banyak orang tampaknya memilih untuk menikah dan memiliki anak di usia yang lebih tua, atau bahkan tidak menikah sama sekali, karena adanya pergeseran prioritas," demikian kata para ahli, dikutip dari Kyodo News.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team