Jakarta, IDN Times - Hubungan yang dibangun China dengan Venezuela selama puluhan tahun runtuh hanya dalam hitungan jam, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melancarkan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Langkah Washington itu bukan hanya mengguncang Caracas, tetapi juga memaksa Beijing melakukan perhitungan ulang terhadap strategi globalnya, di tengah rivalitas kekuatan besar dengan Amerika Serikat.
Beberapa jam sebelum ditangkap dalam operasi malam hari, Maduro masih memuji Presiden China Xi Jinping sebagai ‘kakak’ dan menyebutnya sebagai pemimpin dengan ‘pesan kuat bagi dunia’ saat bertemu diplomat senior China di Caracas. Media pemerintah China bahkan menayangkan pertemuan tersebut, menampilkan kedua pihak membahas sekitar 600 perjanjian bilateral yang masih aktif.
Namun tak lama kemudian, citra Maduro berubah drastis, ia terlihat diborgol dan ditutup matanya di atas kapal perang AS.
China termasuk negara yang secara terbuka mengecam langkah Washington. Beijing menuduh AS bertindak sebagai ‘hakim dunia’. Ia menegaskan, kedaulatan dan keamanan semua negara harus dilindungi sepenuhnya berdasarkan hukum internasional.
Meski demikian, di balik kecaman resmi itu, para pengambil kebijakan di Beijing kini dihadapkan pada dilema besar: bagaimana mempertahankan kepentingan strategis di Amerika Selatan tanpa memperburuk hubungan dengan Trump.
