Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Profil Hassan Rouhani, Mantan Presiden Iran yang Kini Kembali Diperhitungkan
Presiden Iran Hassan Rouhani saat kunjungan ke Provinsi Semnan tanggal 17 April 2016 (Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Hassan Rouhani, mantan presiden Iran sekaligus ulama dan teknokrat, kembali diperhitungkan setelah wafatnya Ali Khamenei memunculkan pertanyaan tentang siapa pemimpin tertinggi berikutnya.
  • Rouhani dikenal lewat perannya sebagai negosiator nuklir utama Iran dan keberhasilannya mencapai kesepakatan JCPOA 2015 yang sempat membuka hubungan diplomatik dengan Barat.
  • Meski sempat tersingkir karena dianggap terlalu lunak terhadap Barat, kematian Khamenei membuat Rouhani kembali relevan di tengah perebutan arah politik dan suksesi kepemimpinan Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Hassan Rouhani adalah salah satu figur paling kompleks dalam sejarah Republik Islam Iran. Dia adalah seorang ulama sekaligus teknokrat yang pernah membawa Iran ke meja perundingan dunia.

Rouhani pernah tersisih oleh sistem yang dia layani, namun kini namanya kembali naik ke permukaan setelah kematian Ali Khamenei membuka pertanyaan besar: siapa pemimpin tertinggi Iran berikutnya?

Berikut rekam jejak Hassan Rouhani.

1. Dari Sorkheh ke panggung internasional

Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. ( Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Melansir Britannica, Rouhani lahir dengan nama Hassan Fereydoun pada 12 November 1948 di Sorkheh, sebuah kota kecil di provinsi Semnan, Iran utara. Nama "Rouhani" yang dalam bahasa Persia berarti "spiritual" atau "ulama" baru ia adopsi belakangan, sebagian untuk menghindari pelacakan oleh dinas keamanan Iran saat ia aktif menentang rezim Shah.

Ia menempuh pendidikan hukum di Universitas Tehran dan lulus pada 1972, lalu melanjutkan studi ke Skotlandia. Hassan meraih gelar Ph.D dalam Hukum Konstitusi dari Glasgow Caledonian University pada 1999 dengan disertasi tentang fleksibilitas hukum Islam, perpaduan latar belakang yang kelak membentuk caranya mendekati politik: lewat negosiasi, bukan konfrontasi.

2. Karier panjang di jantung kekuasaan

Presiden Iran Hassan Rouhani saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin tanggal 22 November 2017 ( Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Rouhani menghabiskan beberapa dekade di posisi-posisi strategis Republik Islam. Melansir Britannica, ia menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dari 1989 hingga 2005, anggota Majelis Ahli sejak 1999, serta anggota Dewan Kebijaksanaan.

Selama Perang Iran-Irak, ia bahkan sempat menjabat sebagai komandan pertahanan udara Iran. Di antara semua jabatan itu, perannya sebagai negosiator nuklir utama Iran antara 2003 hingga 2005 yang paling mengukuhkan reputasinya di kancah internasional, hingga ia dijuluki "syekh diplomat."

3. Presiden yang lahir dari kompromi

Hassan Rouhani mendaftar pada pemilihan presiden Iran 2017 (Nasim Online, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Rouhani memenangi pemilu presiden 2013 dengan lebih dari 50 persen suara, menghindari putaran kedua. Namun, kemenangan itu sebagian besar terjadi karena kandidat-kandidat reformis dan moderat lainnya didiskualifikasi atau mengundurkan diri lebih dulu.

Hal itu menjadikan Rouhani satu-satunya suara moderat di antara deretan kandidat konservatif. Puncak masa jabatannya adalah kesepakatan nuklir 2015, dikenal sebagai JCPOA, yang membatasi program nuklir Iran dan membuka kembali hubungan diplomatik dengan Barat.

3. Jatuh karena dianggap terlalu lunak

Konferensi pers Hassan Rouhani setelah terpilih sebagai presiden di Marble Hall tanggal 16 Juni 2013 ( Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Meskipun awalnya mendapat dukungan Khamenei, hubungan keduanya merenggang ketika Khamenei mengkritik Rouhani karena dianggap terlalu mengalah dalam negosiasi dengan Barat soal perjanjian nuklir. Setelah masa jabatan keduanya berakhir pada 2021, tidak ada satu pun jabatan senior yang diberikan kepadanya. Pada 2024, ia bahkan didiskualifikasi dari pencalonan untuk Majelis Ahli, badan yang ironisnya kini memegang kunci suksesi kepemimpinan tertinggi Iran.

Kematian Khamenei membalik kalkulasi itu seketika. Rouhani, dengan rekam jejak diplomatiknya, jaringan yang masih hidup di dalam sistem, dan citranya sebagai figur moderat, kini kembali menjadi nama yang relevan di tengah kekosongan kekuasaan. Di Iran yang sedang berperang dan mencari arah, pertanyaannya bukan lagi apakah Rouhani masih punya pengaruh, melainkan apakah Majelis Ahli berani memilih jalan yang berbeda dari garis keras yang selama ini mendominasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team