Jakarta, IDN Times – Nicolás Maduro Moros dikenal sebagai salah satu tokoh paling kontroversial dalam kancah politik Amerika Latin abad ke-21. Lahir di Caracas, Maduro naik melalui struktural politik sayap kiri Venezuela setelah masa jabatan Hugo Chávez. Maduro menjadi Presiden Venezuela sejak 2013 setelah kematian pendahulunya.
Selama lebih dari satu dekade memimpin, ia menjadi sosok yang dipuja oleh pendukung revolusi Bolivarian. Namun dia pun dibenci sebagian kalangan di dalam negeri dan oleh banyak negara karena dugaan pelanggaran hak asasi, korupsi, dan penyelewengan demokrasi.
Dinamika kekuasaan Maduro mencapai puncaknya pada awal Januari 2026 ini. Sebuah operasi militer besar-besaran yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) menggulingkan rezimnya dan menangkapnya bersama istrinya, Cilia Flores. Penangkapan itu dilakukan dalam sebuah serangan di Caracas yang kemudian dibangga-banggakan Presiden Donald Trump dalam konferensi pers di hari yang sama.
Maduro dan istrinya kemudian diterbangkan ke New York, lalu kini berada dalam tahanan AS untuk menghadapi dakwaan serius termasuk konspirasi narco-terrorism dan perdagangan narkoba besar-besaran yang dituduhkan oleh jaksa di Pengadilan Distrik Selatan New York. AS menuduh Maduro menggunakan kekuasaannya untuk melindungi jaringan perdagangan kokain internasional dan mencuci hasilnya guna menguatkan rezimnya—tuduhan yang dibantah kuat oleh Maduro dan pendukungnya.
Penangkapan ini telah memicu gelombang reaksi internasional. Di satu sisi, pihak oposisi Venezuela menyambutnya sebagai awal dari kebebasan dan potensi perubahan politik; di sisi lain, banyak negara—termasuk sekutu Venezuela—mengutuk aksi AS sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional. Serangan ini tidak hanya mengguncang geopolitik regional tetapi juga memicu perdebatan tajam tentang legitimasi intervensi militer dan supremasi hukum di panggung global.
Untuk mengenal lebih jauh mengenai kepala negara yang banyak menuai kontroversi itu, berikut IDN Times rangkumkan sejumlah fakta terkait Maduro.
