Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi protes di Iran
ilustrasi protes di Iran (unsplash.com/Nk Ni)

Intinya sih...

  • Bentrokan meluas dan mencekam. Video-video menunjukkan situasi mencekam dengan mobil-mobil dibakar dan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.

  • Demonstran menyuarakan tuntutan yang lebih luas, termasuk diakhirinya pemerintahan Pemimpin Tertinggi Iran.

  • Laporan kerusuhan terus bermunculan dari berbagai wilayah, menandakan gelombang protes yang menyebar secara nasional.

  • Penutupan sekolah dinilai upaya redam protes.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Unjuk rasa yang dipicu lonjakan biaya hidup di Iran terus meluas dan memakan korban jiwa. Memasuki hari kelima protes, laporan media semi-resmi dan kelompok hak asasi manusia menyebut, sedikitnya enam orang tewas dalam bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan di sejumlah wilayah.

Kantor berita semi-resmi Fars dan kelompok pemantau HAM Hengaw melaporkan, dua orang meninggal dunia di Kota Lordegan, Iran barat daya, setelah terjadi bentrokan dengan pasukan keamanan. Fars juga melaporkan tiga kematian di Kota Azna dan satu korban jiwa di Kouhdasht, keduanya berada di wilayah barat Iran.

Namun, hingga kini belum ada kejelasan mengenai identitas para korban. Fars tidak menyebutkan apakah mereka merupakan demonstran atau anggota aparat keamanan. Sementara itu, Hengaw menyatakan dua korban di Lordegan adalah demonstran bernama Ahmad Jalil dan Sajjad Valamanesh.

1. Bentrokan meluas dan mencekam

ilustrasi bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)

Video-video yang beredar di media sosial pada Kamis (1/1/2026), memperlihatkan situasi mencekam, dengan mobil-mobil dibakar dan bentrokan terjadi di jalanan antara demonstran dan aparat keamanan. Rekaman yang telah diverifikasi oleh BBC Persia menunjukkan aksi protes berlangsung di Lordegan, ibu kota Teheran, serta Kota Marvdasht di Provinsi Fars, Iran selatan.

Dalam sejumlah aksi, massa menyuarakan tuntutan yang lebih luas dari sekadar isu ekonomi. Beberapa demonstran menyerukan diakhirinya pemerintahan Pemimpin Tertinggi Iran, sementara yang lain bahkan menyerukan kembalinya sistem monarki.

Seiring berjalannya hari, laporan kerusuhan terus bermunculan dari berbagai wilayah, menandakan gelombang protes yang menyebar secara nasional.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa seorang anggota pasukan keamanan yang terkait dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), tewas dalam bentrokan pada Rabu malam di Kota Kouhdasht. Dalam laporannya, media negara menyebut korban “tewas akibat bentrokan dengan para perusuh”.

Media yang sama juga melaporkan bahwa sedikitnya 13 anggota polisi dan pasukan Basij mengalami luka-luka akibat lemparan batu selama bentrokan berlangsung.

Namun, klaim tersebut dibantah oleh para demonstran. Seorang peserta aksi mengatakan kepada BBC Persia, “orang yang tewas itu adalah salah satu dari kami. Dia ditembak oleh pasukan keamanan.”

2. Penutupan sekolah dinilai upaya redam protes

ilustrasi Iran (unsplash.com/@sajadnori)

Pada Rabu, otoritas Iran mengumumkan penutupan sekolah, universitas, dan sejumlah institusi publik di seluruh negeri. Pemerintah menyebut langkah itu dilakukan untuk menghemat energi akibat cuaca dingin ekstrem.

Namun, banyak warga menilai kebijakan tersebut sebagai upaya untuk membatasi mobilisasi massa. “Ini bukan soal energi. Ini untuk menghentikan orang-orang turun ke jalan,” ujar seorang warga Teheran kepada BBC Persia.

Aksi protes sendiri bermula di Teheran, dipicu kemarahan pedagang atas anjloknya nilai mata uang Iran terhadap dolar AS di pasar bebas. Dalam waktu singkat, mahasiswa ikut turun ke jalan dan aksi menyebar ke berbagai kota, disertai slogan-slogan anti-pemerintah.

3. Presiden janji dengarkan tuntutan masyarakat

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, pemerintahannya akan membuka ruang dialog. “Pemerintah akan mendengarkan tuntutan sah masyarakat,” kata Pezeshkian dalam pernyataan resmi.

Namun, nada berbeda disampaikan oleh Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad. Ia memperingatkan bahwa negara tidak akan mentolerir upaya yang dinilai mengancam stabilitas.

“Setiap tindakan yang bertujuan menciptakan ketidakamanan akan dihadapi dengan respons tegas,” ujarnya.

Aksi protes ini disebut sebagai yang paling luas sejak gelombang demonstrasi besar pada 2022, yang dipicu kematian Mahsa Amini di dalam tahanan polisi moral. Meski skalanya dinilai belum sebesar empat tahun lalu, meningkatnya korban jiwa dan meluasnya tuntutan politik menandakan tekanan yang kembali menguat terhadap pemerintahan Iran.

Editorial Team