Potret masyarakat di Bangkok, Thailand. (pexels.com/Mateusz Turbiński)
Adanya kekhawatiran kesehatan masyarakat soal penyalahgunaan ganja dan insiden terkait, menjadi salah satu alasan terbitnya kebijakan baru pemerintah Thailand. Awalnya, digadang-gadang sebagai penyelamat kemerosotan ekonomi Thailand usai pandemik, tetapi industri ganja yang berkembang pesat justru memicu reaksi keras di dalam negeri.
Dalam beberapa bulan, kebijakan tersebut justru memicu peningkatan penggunaan rekreasi yang meluas hingga ke anak-anak sekolah, yang menjadi perdebatan di antara banyak orang Thailand.
Patraporn Kinorn, seorang dokter yang berspesialisasi dalam psikiatri anak dan pengobatan kecanduan, mengatakan bahwa ia melihat peningkatan jumlah pasien muda yang kecanduan ganja. Para remaja mengonsumsi ganja sendiri, guna mengobati depresi, tetapi kondisi mereka justru memburuk.
Menurut data rawat inap Kementerian Kesehatan Masyarakat, kasus ketergantungan ganja bulanan meningkat tajam. Tercatat, dari rata-rata 162 kasus pada tahun sebelum dekriminalisasi, menjadi 447 pada tahun setelahnya, dan 837 pada tahun berikutnya. Psikosis akibat ganja melonjak lima kali lipat dalam kurun waktu yang sama, The Japan Times melaporkan.