PM Nikol Pashinyan menjelaskan bahwa keputusan yang dia lakukan adalah keputusan menyakitkan. Ilustrasi (twitter.com/Bruno Finel)
20 pesawat, 400 personel militer dan serta kendaraan lapis baja milik militer Rusia sudah sampai di bandara Erebuni di Armenia, dimana pangkalan militer Rusia berdiri. Pasukan selanjutnya akan menyusul. Mereka bertugas menjadi “pasukan perdamaian” untuk mengamankan perjanjian yang sudah dibuat.
Menurut laporan Al Jazeera, masyarakat Armenia kecewa dengan keputusan tersebut. Mereka secara beramai-ramai menuju Republic Square untuk mendesak para politisi melakukan sidang di parlemen untuk membahas dan memperdebatkan kesepakatan “damai” yang telah disetujui Pashinyan (11/11). Dalam perjalanan mereka ke Republic Square, mereka menghampiri orang-orang di kafe, juga mengajak para polisi untuk ikut bergabung dalam barisan “sakit hati” yang ditunjukkan dengan protes.
Dalam beberapa pantauan yang dilakukan oleh Al Jazeera di Armenia, banyak demonstran yang meneriakkan “Nikol pengkhianat!” Ketegangan terjadi di ibukota Yerevan, Armenia. Bentrok antara demonstran dan polisi juga tak terhindarkan. Banyak demonstran yang ditangkap.
Alasan paling mendasar yang diberikan PM Nikol Pashinyan mengapa mau menandatangani kesepakatan tersebut adalah kekhawatiran kota Stepanakert akan jatuh kedalam penguasaan tentara Azeri. Susha, kota terbesar ke dua di Nagorno-Karabakh telah jatuh ke tangan Azeri. “Jika pertempuran berlanjut, kemungkinan besar Stepanakert, Martuni, dan Askeran akan jatuh. Ribuan tentara kita akan dikepung dan keruntuhan akan terjadi. Kami harus menandatangani itu,” kata Perdana Menteri Nikol Pashinyan memberikan penjelasan. Namun, publik sudah terlanjur kecewa dan demonstrasi belum bisa dikondisikan sampai saat ini.