Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Robot Hyundai Bakal Bantu Militer Korsel Jaga Keamanan
Ilustrasi Bendera Korea (freepik.com/pranavkr)
  • Militer Korea Selatan menjajaki kerja sama dengan Hyundai Motor Company untuk mengerahkan robot di perbatasan, sebagai respons atas berkurangnya jumlah tentara akibat rendahnya angka kelahiran.
  • Kementerian Pertahanan dan Hyundai membahas penggunaan tiga sistem robotik utama—MobED, X-ble Shoulder, dan Spot—untuk tugas non-tempur seperti patroli, pengawasan, serta pengiriman logistik.
  • Kerja sama ini mencerminkan tren global militer yang makin mengandalkan teknologi robotika dan AI, seiring tantangan demografi serta kebutuhan efisiensi di berbagai negara termasuk AS dan China.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Militer Korea Selatan sedang menjajaki kerja sama dengan Hyundai Motor Company untuk mengirim robot ke wilayah perbatasan. Langkah ini dilakukan seiring dengan peningkatan investasi pada sistem tanpa awak yang menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Rencana ini muncul karena jumlah anggota aktif angkatan bersenjata Korea Selatan terus berkurang akibat angka kelahiran yang makin rendah. Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa pembicaraan ini masih di tahap awal dan belum ada kesepakatan resmi.

1. Jumlah tentara Korsel terus berkurang karena angka kelahiran rendah

Jumlah anggota militer aktif Korea Selatan berkurang 20 persen dalam enam tahun terakhir, dari 563 ribu orang pada 2019 menjadi sekitar 450 ribu orang tahun ini. Angka ini diperkirakan akan terus turun hingga mencapai 350 ribu orang pada 2040 karena rendahnya angka kelahiran. Saat ini, angkatan bersenjata sudah kekurangan sekitar 50 ribu orang dari target 500 ribu tentara.

Berkurangnya jumlah tentara ini membuat pihak militer mengambil beberapa langkah, termasuk menurunkan syarat fisik untuk wajib militer. Namun, jumlah pemuda yang memenuhi syarat tetap berkurang karena tingkat kelahiran di Korea Selatan adalah salah satu yang paling rendah di dunia.

"Penurunan jumlah tentara memang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, kami mencari cara untuk meningkatkan efektivitas pasukan kami," kata pejabat Angkatan Darat Korsel, dilansir Aju Press.

Sejak 2006, jumlah divisi dan unit utama telah dikurangi dari 59 menjadi 42 melalui penggabungan dan pembubaran. Kondisi ini terjadi di tengah ancaman nuklir dan rudal dari Korea Utara, sehingga Korea Selatan harus merancang ulang strategi militernya dari yang bergantung pada banyak tenaga manusia menjadi berpusat pada teknologi.

2. Rencana penggunaan robot Hyundai di wilayah perbatasan

Kementerian Pertahanan Korea Selatan membenarkan bahwa mereka sedang membahas kerja sama dengan Hyundai. Ini adalah bagian dari upaya untuk menghadapi perubahan situasi di lapangan dan membangun kekuatan militer berbasis teknologi.

"Angkatan Darat sedang menjalin kerja sama dengan pemerintah, industri, dan akademisi untuk menjadi pasukan yang lebih mengandalkan teknologi. Kami juga sedang menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Hyundai Motor," kata pejabat Angkatan Darat, dilansir The Star.

Pembicaraan antara Markas Besar Angkatan Darat dan Hyundai Motor Group membahas penggunaan tiga sistem robotik utama. Sistem itu meliputi MobED (kendaraan tanpa awak beroda empat), X-ble Shoulder (robot yang bisa dipakai di tubuh layaknya pakaian), dan Spot (robot berkaki empat buatan Boston Dynamics, perusahaan asal AS yang dimiliki Hyundai). Laporan menyebutkan bahwa militer mempertimbangkan penggunaan robot ini untuk tugas non-tempur, seperti pengawasan, patroli, dan pengiriman logistik.

"Dunia robotika tidak memiliki hambatan dari masa lalu. Robot bisa menggunakan teknologi kelistrikan dan elektronik yang sudah mapan pada kendaraan tanpa awak, sehingga perkembangannya bisa sangat cepat," kata analis Samsung Securities, Esther Yim.

3. Perkembangan robot militer Hyundai dan tren di negara lain

Bagi Hyundai, kerja sama dengan militer ini bisa menjadi pencapaian penting dalam pengembangan robotnya. Penggunaan Spot di daerah perbatasan Korea Selatan akan membuktikan kegunaan teknologi ini di luar keperluan bisnis dan industri. Sebelumnya, robot Spot sempat menarik perhatian saat berpatroli di rumah Presiden AS, Donald Trump, di Mar-a-Lago. Pembelian Boston Dynamics pada 2021 juga menunjukkan keseriusan Hyundai dalam bidang kecerdasan buatan dan robotika.

Meski begitu, Hyundai Motor Group belum membenarkan adanya kerja sama militer secara resmi.

"Kami sedang mencari cara untuk bekerja sama dengan banyak pihak di bidang robotika, tetapi belum ada kesepakatan dengan pihak tertentu selain yang sudah kami sampaikan ke publik," kata juru bicara Hyundai Motor Group.

Langkah Korea Selatan ini sejalan dengan tren militer di banyak negara yang menghadapi masalah bertambahnya jumlah penduduk usia tua. Militer AS telah menguji robot anjing untuk menjaga keamanan di pangkalan seperti Cape Cod Space Force Station. Sementara itu, China secara terbuka menunjukkan robot anjing bersenjata dalam latihan bersama Kamboja pada 2024. Para pejabat dan ahli pertahanan menegaskan bahwa rencana Korea Selatan saat ini hanya untuk tugas yang tidak berbahaya, seperti pengawasan, patroli, dan pengiriman logistik, bukan untuk keperluan tempur menggunakan senjata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team