Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rusia Serang Situs Produksi Gas Ukraina, 5 Orang Tewas
potret situs produksi gas milik perusahaan energi Ukraina, Naftogaz (commons.wikimedia.org/Нафтогаз України)
  • Rusia menyerang fasilitas produksi gas Naftogaz di Poltava dan Kharkiv menggunakan drone serta rudal balistik, menewaskan lima orang dan melukai 37 lainnya.
  • Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam serangan tersebut karena dilakukan menjelang gencatan senjata yang diumumkan Rusia untuk memperingati kemenangan atas Nazi.
  • Perang Rusia-Ukraina masih berlanjut meski sudah empat tahun berlangsung, dengan beberapa pertemuan perdamaian bersama Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Rusia dikabarkan telah menyerang situs produksi gas milik perusahaan energi Ukraina, Naftogaz, yang ada di daerah Poltava dan Kharkiv menggunakan drone dan rudal balistik. Serangan tersebut terjadi pada Senin (4/5/2026) malam waktu setempat.

Menurut keterangan CEO Naftogaz, Serhiy Koretskyi, pada Selasa (5/5/2026), serangan Rusia menewaskan setidaknya lima orang. Tiga orang merupakan pekerja di situs produksi gas tersebut, sedangkan dua lainnya merupakan petugas penyelamat yang sedang bertugas di lokasi kejadian. 

"Fasilitas produksi gas di wilayah Poltava dan Kharkiv menjadi sasaran serangan (Rusia)," kata Koretskyi, seperti dilansir The Strait Times.  

1. Sebanyak 37 orang lainnya mengalami luka-luka

ilustrasi orang yang sedang terluka (unsplash.com/Tom Jur)

Selain menewaskan lima orang, Koretskyi menambahkan, serangan Rusia di fasilitas produksi gas Ukraina di Poltava dan Kharkiv juga melukai 37 orang. Mereka yang terluka kini sudah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. 

Koretskyi juga menyebut bahwa serangan Rusia sudah merusak beberapa area di perusahaan yang ia pimpin. Ia mengaku kerusakan tersebut menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi perusahaan.  

"Kami mengalami kerusakan dan kerugian produksi yang signifikan. Ini adalah serangan gabungan yang melibatkan UAV (pesawat tanpa awak) dan rudal balistik," jelas Koretskyi. 

2. Presiden Ukraina mengecam serangan Rusia

potret Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy (flickr.com/President Of Ukraine via commons.wikimedia.org/President Of Ukraine)

Serangan Rusia ini menuai respons dari Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. Dalam pernyataannya, ia mengecam serangan tersebut karena Rusia baru saja mengumumkan gencatan senjata singkat dengan Ukraina.

"(Ini) merupakan tindakan sinisme yang sangat besar untuk meminta gencatan senjata demi mengadakan perayaan propaganda sementara serangan rudal dan pesawat tak berawak dilakukan setiap hari menjelang gencatan senjata," kata Zelenskyy. 

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, gencatan senjata dengan Ukraina ini diberlakukan sebagai peringatan ulang tahun ke-81 kemenangan Rusia atas Nazi dalam peristiwa Perang Dunia Ke-2. Kementerian itu menambahkan bahwa gencatan senjata ini akan mulai berlaku pada Jumat (8/5/2026) dan Sabtu (9/5/2026) mendatang.

3. Perang Rusia dan Ukraina masih berlanjut

ilustrasi perundingan damai Rusia dan Ukraina (unsplash.com/Zulfugar Karimov)

Saat ini, perang antara Rusia dan Ukraina masih berlanjut. Keduanya masih saling melakukan serangan untuk mempertahankan kekuasaan. Padahal, pada Februari lalu, perang di antara keduanya sudah genap berjalan selama 4 tahun.

Untuk mengakhiri perang, Rusia dan Ukraina sebetulnya sudah berkali-kali menggelar pertemuan trilateral dengan Amerika Serikat yang berperan sebagai mediator. Namun, semua pertemuan itu berakhir nihil tanpa kesepakatan berarti. 

Pertemuan pertama dan kedua dihelat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 23–24 Januari dan pada 4–5 Februari 2026. Namun, kedua pertemuan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan perdamaian antara Rusia dan Ukraina.

Setelah itu, Rusia dan Ukraina lantas menggelar pertemuan ketiga di Jenewa, Swiss, pada 17 dan 18 Februari. Sayangnya, pertemuan tersebut lagi-lagi gagal menghasilkan perdamaian. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team