ilustrasi (Unsplash.com/Markus Winkler)
Teknologi AI telah bergerak cepat dan menjadi industri masa depan yang diperkirakan dapat menggantikan berbagai macam pekerjaan. Perkembangan itu membutuhkan norma yang lebih fleksibel, karena aturan saat ini bisa menjadi usang di masa berikutnya.
"Kita membutuhkan sebuah proses, proses intervensi yang konstan dari berbagai pemangku kepentingan, bekerja sama untuk secara permanen menetapkan sejumlah mekanisme hukum lunak, sejumlah, menurut saya, norma, kode etik, dan lain-lain," kata Guterres dikutip dari VOA News.
Kode etik yang disusun, menurut Guterres, diharapkan dapat dipatuhi oleh perusahaan teknologi dan pemerintah. Tujuannya mengurangi penyebaran informasi yang keliru dan ujaran kebencian.
“Usulannya untuk menciptakan pagar pembatas, membantu pemerintah menyatukan pedoman yang mempromosikan fakta, sambil mengungkap konspirasi dan kebohongan, dan menjaga kebebasan berekspresi dan informasi," jelasnya.
Guterres melontarkan kritik sebab perusahaan teknologi tidak berbuat banyak mencegah platformnya menyebarkan kebencian dan kekerasan. Dia juga mengkritik pemerintah karena mengabaikan hak asasi manusia dan terkadang menutup internet secara menyeluruh.