Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Serangan di RS Sudan, 64 Orang Tewas dan 89 Lainnya Terluka
gambar peta Sudan (unsplash.com/Lara Jameson)
  • Serangan di Rumah Sakit Pendidikan Al Deain, Darfur Timur, menewaskan 64 orang termasuk tenaga medis dan anak-anak, serta melukai 89 lainnya menurut laporan WHO.
  • Fasilitas rumah sakit rusak parah hingga tak berfungsi, sementara WHO membantu memperkuat layanan kesehatan lain di tengah konflik berkepanjangan antara militer Sudan dan RSF.
  • Serangan drone yang diduga berasal dari militer Sudan menjadi bagian dari pola kekerasan yang meluas, menyebabkan ribuan korban jiwa dan jutaan warga mengungsi di seluruh Sudan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

⁠Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sedikitnya 64 orang tewas akibat serangan terhadap sebuah rumah sakit di wilayah Darfur, Sudan. Di antara korban tewas terdapat 13 anak-anak.

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan serangan di Rumah Sakit Pendidikan Al Deain di Al Deain, ibu kota negara bagian Darfur Timur, terjadi pada Jumat (20/3/2026) malam. Korban tewas termasuk dua perawat perempuan, satu dokter pria dan beberapa pasien. Sebanyak 89 orang lainnya, termasuk delapan staf kesehatan, juga dilaporkan terluka, dilansir dari Al Jazeera.

1. Rumah sakit tidak lagi dapat berfungsi karena rusak parah

ilustrasi layanan kesehatan di rumah sakit (unsplash.com/Hush Naidoo Jade Photography)

Ghebreyesus mengatakan serangan tersebut merusak unit pediatri, bersalin, dan gawat darurat rumah sakit, sehingga membuat fasilitas itu tidak lagi berfungsi dan menghentikan layanan medis penting di kota tersebut. WHO kini tengah mendukung mitra kesehatan lokal untuk meningkatkan kapasitas di fasilitas kesehatan lainnya, termasuk memperluas kemampuan perawatan korban luka serta mendistribusikan perlengkapan penanganan trauma dan obat-obatan esensial.

“Sebagai akibat dari tragedi ini, jumlah total korban jiwa yang terkait dengan serangan terhadap fasilitas kesehatan selama perang di Sudan kini telah melampaui 2. ribu orang,” tambah Tedros.

Ia menyebutkan bahwa selama hampir 3 tahun konflik antara militer Sudan dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF), WHO telah mengonfirmasi tewasnya 2.036 orang dalam 213 serangan terhadap layanan kesehatan.

“Cukup sudah darah yang tertumpah. Cukup sudah penderitaan yang ditimbulkan. Sudah saatnya untuk meredakan konflik di Sudan dan memastikan perlindungan bagi warga sipil, tenaga kesehatan, dan pekerja kemanusiaan," ujarnya.

2. Drone diduga berasal dari militer Sudan

pria Sudan memegang senapan G3 (Steve Evans, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Belum jelas siapa yang bertanggung jawab atas serangan di Rumah Sakit Pendidikan Al Deain. Namun, kelompok hak asasi manusia Sudan, Emergency Lawyers, menyebut rumah sakit itu terkena serangan drone milik tentara.

Dilansir dari The New Arab, RSF mendominasi wilayah Darfur di Sudan bagian barat, sementara militer Sudan menguasai wilayah timur, tengah dan utara. Kota El-Daein yang dikuasai RSF telah berulang kali diserang oleh militer Sudan, yang berupaya mendorong pasukan paramiliter tersebut kembali ke basis mereka di Darfur

Sebelumnya, serangan di pasar kota tersebut awal bulan ini memicu kebakaran pada drum-drum minyak yang kemudian terbakar selama berjam-jam.

3. Serangan drone kerap digunakan dalam perang di Sudan

ilustrasi tentara (unsplash.com/Pawel Janiak)

Dilansir dari The Guardian, serangan drone yang terjadi hampir setiap hari telah menjadi ciri khas perang brutal di Sudan. Puluhan orang tewas dalam sekali serangan, terutama di wilayah Kordofan Selatan.

Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Volker Turk, menyatakan dirinya terkejut setelah mengetahui lebih dari 200 warga sipil tewas akibat serangan drone dalam jangka waktu 8 hari.

“Pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di Sudan terus menggunakan drone yang semakin kuat untuk meluncurkan senjata peledak dengan dampak luas di wilayah berpenduduk,” ujarnya.

Perang di Sudan telah menewaskan puluhan ribu orang dan membuat lebih dari 11 juta warga mengungsi. Konflik ini juga memicu apa yang digambarkan PBB sebagai krisis pengungsian dan kelaparan terbesar di dunia, dengan lebih dari 33 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team