Koper-koper milik jemaah haji Indonesia sedang dihitung ulang sebelum dimuat ke dalam truk (Dok. MCH 2026)
Tantangan paling menguras waktu dalam alur distribusi bagasi kerap kali bermula dari mesin pemindai X-ray milik otoritas bandara di Arab Saudi. Riza Fahlefi, petugas yang juga mengurus bagasi jemaah di Jeddah, menceritakan bahwa timnya yang berjumlah lima orang bertugas menghitung dan mencocokkan jumlah koper dengan manifes jemaah yang terbang hari itu.
Idealnya, koper-koper ini tidak boleh berlama-lama tertahan di bandara. "Sebaiknya koper yang hadir di sini tidak terlalu lama sehingga langsung diangkut dalam truk. Maksimal setengah jam atau satu jam," kata Riza.
Baru-baru ini, petugas bandara terpaksa membongkar koper milik jemaah karena tangkapan layar mesin menunjukkan tumpukan barang yang mencurigakan.
Tim Bagasi Bandara Jeddah, Riza Fahlevi, yang mendampingi proses tersebut mendapati fakta yang mengundang senyum sekaligus teguran.
"Ternyata ada tempe orek berkilo-kilogram, kami lalu menjelaskan pada petugasnya bahwa itu makanan," ungkap Riza, Senin (11/5/2026). Setelah dijelaskan bahwa tempe seberat lima kilogram itu adalah logistik lauk pauk, koper akhirnya diizinkan lewat.
Kasus serupa terjadi pada jemaah yang membawa minyak zaitun. Niat hati ingin mencegah kebocoran dengan melilitkan lakban tebal berkali-kali, kemasan itu justru memicu alarm. "Kemasan itu yang membuat petugas X-ray curiga dan meminta pembongkaran," ujar Riza.
Ia pun mengimbau jemaah agar tidak membawa makanan dalam jumlah berlebihan atau mengemasnya secara berlebihan. "Karena proses pembongkaran ini bisa menghambat distribusi koper jemaah lainnya (dari bandara ke hotel)," tegasnya.