Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Situasi Memanas, 500 Warga Rusia Dievakuasi dari Iran
potret bendera Rusia (unsplash.com/Sergey Beschastnykh)
  • Pemerintah Rusia mengevakuasi sekitar 500 warganya dari Iran melalui Azerbaijan karena situasi keamanan memburuk akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
  • Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan serangan ke Iran, sementara Jerman, Inggris, dan Prancis menyatakan dukungan terhadap operasi militer tersebut.
  • Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memicu duka nasional dan janji balasan besar dari Iran terhadap AS serta Israel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Rusia memutuskan untuk mengevakuasi sekitar 500 warganya dari Iran. Langkah ini dilakukan karena situasi di Iran makin memanas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel.

Menurut keterangan Kedutaan Besar Rusia di Baku pada Minggu (1/3/2026), evakuasi akan dilakukan lewat Azerbaijan. Rusia memilih mengevakuasi warganya lewat jalur darat karena evakuasi melalui jalur udara terlalu berbahaya akibat serangan udara AS dan Israel ke Iran.

1. Sebanyak 192 orang sudah dievakuasi dari Iran ke Azerbaijan

potret bendera Azerbaijan (unsplash.com/Hikmat Gafarzada)

Berkat bantuan ini, Kedutaan Besar Rusia menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Azerbaijan. Sebab, mereka telah mengizinkan wilayahnya untuk menjadi tempat transit warga Rusia yang akan dievakuasi dari Iran.

"Kami ingin menyampaikan rasa terima kasih kami kepada pihak Azerbaijan atas bantuan mereka, termasuk atas pertimbangan cepat terhadap masalah yang berkaitan dengan penerbitan izin penyeberangan perbatasan," bunyi pernyataan resmi Kedutaan Besar Rusia di Azerbaijan dilansir The Strait Times.

Menurut seorang sumber internal Pemerintah Azerbaijan, sejauh ini, sudah ada sekitar 192 orang yang berhasil dievakuasi dari Iran ke Azerbaijan. Jumlah ini terdiri dari 110 warga Rusia dan 82 warga Azerbaijan.

2. AS dan Israel masih melakukan serangan terhadap Iran

ilustrasi serangan udara (unsplash.com/Ben Koorengevel)

Hingga saat ini, AS dan Israel masih melakukan serangan terhadap Iran. Perang ini diprediksi bakal makin parah karena Jerman, Inggris, dan Prancis dikabarkan bakal membantu AS dan Israel untuk berperang melawan Iran.

"Kami telah sepakat untuk bekerja sama dengan AS dan sekutu di kawasan ini dalam masalah ini," bunyi pernyataan bersama Jerman, Inggris, dan Prancis yang dirilis pada Minggu dilansir France 24.

Dalam menghadapi serangan dari AS dan Israel, Iran tentu tidak tinggal diam. Mereka juga membalas serangan kedua negara tersebut melalui serangan udara. Pada Minggu kemarin, Iran menghujani Ibu Kota Israel, Tel Aviv, dengan serangan rudal. Serangan tersebut menyebabkan banyak bangunan tempat tinggal warga hancur dan puluhan orang mengalami luka-luka.

Selain di Tel Aviv, serangan juga terjadi di Kota Beit Shemesh pada hari yang sama. Serangan di kota tersebut dilaporkan menewaskan sembilan orang dan melukai 27 lainnya.

3. Iran akan membalas AS-Israel dengan serangan yang lebih parah

potret Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani (commons.wikimedia.org/Mostafameraji)

Sejauh ini, sudah ada lebih dari 200 korban jiwa akibat serangan AS dan Israel di Iran. Salah satu korban yang sudah dinyatakan tewas adalah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei tewas setelah AS dan Israel menyerang kediamannya di Ibu Kota Teheran pada Sabtu (28/2/2026) lalu.

Kematian Khamenei membuat seluruh warga Iran berduka. Oleh karena itu, Pemerintah Iran menetapkan status berkabung di seluruh negeri selama 40 hari untuk menghormati Khamenei. Di samping itu, kematian Khamenei juga membuat Pemerintah Iran marah besar. Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan Iran akan membalas serangan AS dan Israel dengan serangan yang lebih parah.

"Kemarin Iran menembakkan rudal ke Amerika Serikat dan Israel. Itu menyebabkan kerugian. Hari ini, kita akan menghantam mereka dengan kekuatan yang belum pernah mereka alami sebelumnya," ungkap Larijani dalam pernyataannya dilansir CNA.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team