Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Studi: Gas Rumah Tangga di Eropa Mengandung Zat Pemicu Kanker
Ilustrasi kompor gas (unsplash.com/Avinash Shet)
  • Penelitian internasional menemukan kadar benzena sangat tinggi dalam gas rumah tangga di Inggris, Belanda, dan Italia, memicu kekhawatiran serius terhadap standar keamanan energi Eropa.
  • WHO menegaskan benzena sebagai karsinogen tanpa ambang aman; paparan dari kompor gas meningkatkan risiko kanker, gangguan pernapasan, dan asma terutama pada anak-anak serta penghuni rumah sempit.
  • Standar bau gas dinilai tak efektif mendeteksi kebocoran benzena; peneliti mendorong transisi ke kompor listrik atau induksi serta regulasi ketat demi melindungi kesehatan publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sebuah penelitian internasional yang dirilis pada Rabu (25/3/2026), mengungkap temuan mengkhawatirkan terkait polutan berbahaya pada pasokan gas rumah tangga di sejumlah kota besar Eropa. Laporan tersebut memberikan peringatan dini bagi jutaan konsumen mengenai keberadaan zat karsinogenik (pemicu kanker) yang selama ini tidak terdeteksi dalam penggunaan gas harian.

Fokus utama laporan ilmiah ini adalah tingginya kadar benzena—senyawa kimia penyebab kanker—pada sampel gas di pemukiman warga Inggris, Belanda, dan Italia. Temuan ini memicu desakan evaluasi terhadap standar keamanan energi dan kebijakan perlindungan kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.

1. Penelitian ungkap gas rumah tangga di Eropa mengandung zat pemicu kanker

ilustrasi menyalakan kompor gas (pexels.com/RDNE Stock project)

Penelitian terbaru dari Universitas Stanford dan PSE Healthy Energy menunjukkan bahwa gas rumah tangga di Inggris mengandung benzena rata-rata 37 kali lebih banyak dibandingkan Amerika Utara. Di Belanda, konsentrasinya bahkan mencapai 66,5 kali lipat lebih tinggi. Data ini diperoleh melalui analisis mendalam terhadap sampel gas dari dapur warga di tujuh kota besar Eropa.

"Kami sangat terkejut dengan tingginya kandungan benzena dalam gas di rumah penduduk Eropa dibandingkan wilayah lain. Dampak kesehatan dari temuan ini sangat mengkhawatirkan," ujar Dr. Tamara Sparks, ilmuwan kualitas udara dari PSE Healthy Energy, dikutip dari The Straits Times.

Data spesifik menunjukkan kadar benzena di London mencapai 64 kali lipat dari rata-rata Amerika Utara, sementara Amsterdam 73 kali lipat dan Milan 8,5 kali lipat. Perbedaan ekstrem ini diduga berasal dari variasi sumber gas alam dan proses pemurnian oleh perusahaan energi.

Studi tersebut juga menemukan bahwa sekitar 40 persen kompor gas mengalami kebocoran meskipun dalam kondisi mati. Hal ini membuktikan bahwa risiko kesehatan tetap ada tanpa perlu aktivitas memasak, karena kebocoran infrastruktur membuat penghuni menghirup benzena secara terus-menerus tanpa disadari.

2. Ahli peringatkan bahaya benzena dan polusi gas rumah tangga bagi kesehatan

Potret kompor gas (pexels.com/Mateusz Feliksik)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan benzena sebagai zat karsinogen genotoksik yang tidak memiliki ambang batas paparan aman. Paparan jangka panjang terhadap senyawa ini berkorelasi langsung dengan peningkatan risiko leukemia dan kanker sel darah lainnya.

"Benzena adalah karsinogen genotoksik tanpa tingkat paparan yang benar-benar aman. Hasil penelitian ini sangat layak ditelaah karena membawa risiko serius bagi populasi umum," ujar Prof. Roy Harrison, pakar kesehatan lingkungan dari Universitas Birmingham.

Selain kanker, pembakaran gas melepaskan nitrogen dioksida yang memicu gangguan pernapasan. Laporan Stanford menyebutkan penggunaan kompor gas meningkatkan paparan nitrogen dioksida jangka panjang hingga 75 persen dari batas aman WHO. Gabungan benzena dan nitrogen dioksida menciptakan lingkungan dalam ruangan yang berbahaya bagi paru-paru dan sistem peredaran darah.

Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena laju pernapasan yang lebih tinggi. Data menunjukkan anak di rumah dengan kompor gas memiliki risiko asma 42 persen lebih tinggi. Risiko ini juga meningkat pada masyarakat berpenghasilan rendah yang tinggal di hunian sempit dengan sirkulasi udara terbatas.

"Mereka yang tinggal di rumah kecil sering kali menghirup polusi udara dalam ruangan dari kompor yang kadarnya setara dengan gabungan seluruh polusi luar ruangan," ungkap Prof. Rob Jackson dari Universitas Stanford.

3. Bau gas tidak lagi cukup untuk deteksi kebocoran zat berbahaya di rumah

ilustrasi kompor gas (pixabay.com/Stroganova)

Temuan penting lainnya adalah standar pemberian bau pada gas (odorant) saat ini tidak cukup untuk mendeteksi kebocoran benzena. Di Inggris dan Belanda, kadar zat pemberi bau berbasis sulfur terlalu rendah untuk memicu peringatan pada kebocoran kecil yang membawa benzena dosis tinggi.

"Hidung kita adalah garis pertahanan utama terhadap kebocoran gas. Namun, temuan kami mempertanyakan efektivitas bau tersebut dalam melindungi masyarakat," kata Dr. Drew Michanowicz, ilmuwan senior dari PSE.

Kadar benzena di Inggris bahkan bisa meningkat hingga sembilan kali lipat di atas batas nasional sebelum bau gas dapat tercium. Sebagai solusi jangka panjang, peneliti menyarankan transisi ke peralatan listrik atau kompor induksi. Langkah ini diklaim mampu mengurangi polusi nitrogen dioksida di dalam ruangan hingga lebih dari 50 persen sekaligus menghilangkan sumber benzena sepenuhnya.

Meskipun ventilasi atau penggunaan penyedot asap (cooker hood) membantu, intervensi pemerintah dalam memperketat standar kualitas gas dan mendorong elektrifikasi rumah tangga tetap menjadi kunci utama kesehatan masyarakat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team