Orang-orang berunjuk rasa sambil mengibarkan bendera Singa dan Matahari pra-revolusi Iran yang menyerupai bendera Amerika Serikat selama demonstrasi "Kebebasan untuk Iran" di alun-alun Potsdamer Platz di Berlin, Jerman pada 28 Februari 2026. (RALF HIRSCHBERGER/AFP)
Ketidakpercayaan terhadap kebijakan luar negeri Trump sudah terlihat bahkan sebelum operasi militer dimulai. Jajak pendapat AP-NORC yang dilakukan sepekan sebelum serangan menunjukkan hanya 27 persen warga yang percaya Trump bisa membuat keputusan militer yang tepat. Bahkan, sebanyak 56 persen responden mengaku sama sekali tidak percaya atau hanya percaya sedikit pada sang presiden dalam urusan militer asing.
Publik AS juga menilai Trump terlalu mudah menggunakan kekuatan militer untuk menyelesaikan masalah internasional. Survei Reuters menemukan 56 persen responden menganggap Trump terlalu gegabah memakai opsi bersenjata. Mayoritas pandangan negatif ini didominasi oleh 87 persen pendukung Demokrat dan 60 persen pemilih independen.
Secara umum, opini publik lebih mengutamakan pendekatan diplomatik dibandingkan kekuatan bersenjata untuk menangani konflik. Jajak pendapat CBS News mencatat 38 persen warga memilih jalur diplomasi dan 22 persen menyetujui sanksi ekonomi untuk menghadapi kepemimpinan Iran. Sebaliknya, hanya 18 persen responden yang mendukung penggulingan rezim melalui kekuatan militer.
Meskipun menolak jalur peperangan, warga AS pada dasarnya tetap mewaspadai program nuklir Iran. Survei AP-NORC mengungkap 48 persen warga sangat khawatir dengan program nuklir yang dianggap sebagai ancaman langsung bagi AS.
"Warga Amerika, dengan selisih yang sangat besar, tidak ingin terlibat dalam konflik berkelanjutan di Timur Tengah," ujar Doug Bandow, peneliti senior Cato Institute, dilansir Al Jazeera.